Beranda Headline Menyusuri Sejarah Kampung Salapan di Karawang: Hanya Dihuni 9 Keluarga, Diwarnai Beragam...

Menyusuri Sejarah Kampung Salapan di Karawang: Hanya Dihuni 9 Keluarga, Diwarnai Beragam Mitos

Kampung salapan karawang
Jalan menuju Kampung Salapan di Jl. Nambo, Gempol, Kecamatan Banyusari, Kabupaten Karawang.

KARAWANG – Tahukah kalian, di Kabupaten Karawang Jawa Barat ada kampung unik yang konon jumlah penduduknya tak bisa lebih dari 9 KK (Kepala Keluarga).

Namanya Kampung Sembilan atau Kampung Salapan dalam pengucapan bahasa Sunda.

Keberadaan kampung ini, cukup jauh dari hiruk pikuk kehidupan kota. Lokasinya tak berdekatan dengan kampung-kampung lain. Komplek kampungnya tepat berada di tengah sawah di Jl. Nambo, Gempol, Kecamatan Banyusari, Kabupaten Karawang.

Baca juga: Ada 47 Desa di Karawang Masuk Kategori Kawasan Kumuh, Kok Bisa?

Asal usul nama Kampung Salapan

Ito Waskito (44) salah satu warga Kampung Salapan, Karawang yang dipercaya jadi juru bicara menceritakan, kampung tersebut dulunya bernama Kampung Babakan.

Baru dinamakan Kampung Sembilan pada tahun 2010 lalu.

“Jadi memang kampung ini dari dulu serba 9, rumah jumlahnya 9, kepala keluarga juga 9. Tapi dulu namanya Kampung Babakan,” ungkapnya kepada tvberita pada Selasa, 19 November 2024.

Baca juga: KPU Karawang Kekurangan 40 Ribu Surat Suara Pilkada Serentak, Targetkan Tercetak dalam 2 Hari

Penamaan Kampung Sembilan ini didasari oleh seleksi alam yang tak dimengerti oleh warga setempat. Hingga saat ini, jumlah penduduk tak pernah kurang atau lebih dari 9 KK (27 jiwa).

Kejanggalan akan dialami warga setempat, apabila jumlah rumah atau KK melebihi 9 dan jumlah orang melebihi 27 jiwa.

“Waktu itu rumah sempet ada 10, keponakan saya yang kuliah meninggal. Teteh saya juga meninggal, 1 tahun sampe 2 orang meninggal. Ketika lebih dari 27 jiwa, suka ada aja. Akhirnya balik lagi ke angka awal 27,” katanya.

“Sempet juga rumah sampe ada 11 bangunan, beberapa tahun balik lagi jadi 9 rumah. Ada yang pindah, ada yang sakit-sakitan. Seperti ada seleksi alam,” tambah Ito.

Baca juga: Mengintip Gaya Hidup Minimalis Generasi Satori di Jepang

Karena hal tersebut, Kampung yang semula bernama Babakan, kini dikenal menjadi Kampung Salapan yang penuh misteri.

Misteri Batu Merah Diduga Cagar Budaya
Kampung Salapan Karawang
Ito Waskito (44) salah satu warga Kampung Salapan Karawang memegang batu merah diduga objek cagar budaya.

Selain jumlah penduduk yang selalu sama, keanehan lain juga ditemukan di Kampung Salapan ini.

Bahkan Tim Arkeolog Nasional (Arkenas) sempat meneliti, dan menduga Kampung Salapan adalah wilayah sakral peninggalan sejarah.

Ito menjelaskan, saat itu di tahun 2009 terjadi kemarau panjang. Warga setempat bergotong royong melakukan penggalian, agar muncul sumber air yang dapat mengalir ke sawah.

“Ternyata ditemukan bongkahan batu bata banyak, almarhum bapak Samin sepuh di sini yang nemu batu pertama. Karena keanehan batu bata tersebut diteliti oleh arkeolog di tahun 2010, setelah itu keluar pernyataan bahwa batu bata ini memiliki nilai sejarah dengan perkiraan usia abad ke 2 atau ke 3,” jelasnya.

Baca juga: Utang Pinjol Warga Jabar Numpuk Rp 18 Triliun, Bey Salahkan Skema Pinjaman Perbankan yang Lamban

Meskipun begitu, hingga saat ini misteri batu merah tersebut belum terpecahkan. Keunikan Kampung Salapan juga belum terungkap. Karena, kata Ito, daftar silsilah keturunan di kampung tersebut sudah terputus.

“Tekstur batu dan warnanya mirip dengan batu-batu merah di candi jiwa. Saat ini masih belum terpecahkan, masih objek diduga cagar budaya,” katanya.

Mitos Penunggu dan Balong Pengabul Hajat

Orang-orang setempat mempercayai, Kampung Salapan erat kaitannya dengan sejarah. Bahkan, sebuah balong (kolam) di kampung tersebut, dipercaya bisa mengabulkan keinginan.

“Banyak yang kesini bahkan dari Banten, dari luar pulau Jawa, cuman untuk mandi di balong. Mitosnya, ada ikan gabus bukan ikan biasa. Kalau di kuras kadang ada kadang enggak, ikannya se betis orang dewasa,” ungkap Ito.

Baca juga: Menikmati Pesona Alam dan Sejarah di Wisata Karawang

Selain gabus, warga setempat mengaku kerap melihat sosok-sosok makhluk halus yang diduga penunggu Kampung Salapan. “Satu dua warga kadang liat ada harimau, kakek-kakek, atau orang gede tinggi kayak penampilan kerajaan jaman dulu,” tambahnya.

Kehidupan Warga di Kampung Salapan
Kampung Salapan Karawang
Anak-anak di Kampung Salapan Karawang sedang bermain. Foto: istimewa

Terakhir Ito menjelaskan, kehidupan warga di Kampung Salapan terbilang normal. Ada yang sekolah, bekerja dan rata-rata berprofesi sebagai buruh tani.

“Keseharian seperti biasa, mengikuti trend-trend modern juga orang disini. Warga asli sini ada yang menetap di sini, ada juga yang merantau,” jelasnya.

Baca juga: Syarat dan Cara Pindah TPS untuk Pilkada 2024, Besok Hari Terakhir

Selain itu, warga Kampung Salapan juga masih mempertahankan tradisi ngabungbang atau berkumpul rutin untuk mempererat hubungan sosial.

Meskipun banyak misteri yang belum terpecahkan, Ito dan warga setempat bertekad untuk menjaga puing-puing sejarah yang tertinggal di Kampung Salapan.

“Setiap malam Sabtu ngabungbang, berkumpul ngobrol-ngobrol. Terus karena kita di sini islam semua, suka ada tradisi tahlil juga dan baca-baca shalawat. Alhamdulillah kehidupan di sini rukun,” tandasnya. (*)