KARAWANG – Objek wisata alam Curug Cigentis mengalami lonjakan kunjungan signifikan selama libur Lebaran 2026. Dalam kurun waktu 16 hari, jumlah pengunjung tercatat mencapai sekitar 8.000 orang.
Pengelola dari Palawi (Perhutani Alam Wisata), Marhum (55), menyebutkan bahwa saat ini rata-rata kunjungan harian bahkan menembus lebih dari 100 orang, meningkat tajam dibanding hari biasa.
“Sekarang setiap hari bisa lebih dari 100 pengunjung. Kalau hari biasa mah paling 10 sampai 20 orang,” ujarnya pada Minggu, (5/4).
Baca juga: Kini Lebih Dekat, Layanan Jantung RSUD Jatisari Bisa Diakses Peserta BPJS
Menurutnya, mayoritas wisatawan berasal dari wilayah Karawang, Bekasi, hingga Purwakarta. Lokasi Curug Cigentis yang relatif dekat dari kawasan industri menjadi salah satu faktor daya tarik.
“Kemungkinan karena ini salah satu curug terdekat dari Karawang dan Bekasi, jadi banyak yang ke sini,” katanya.
Dengan harga tiket masuk Rp25 ribu, pengunjung dapat menikmati sejumlah fasilitas seperti area air terjun, kolam alami, jembatan, serta fasilitas dasar seperti MCK. Namun, untuk penginapan hingga kini belum tersedia di kawasan wisata tersebut.
Pengelolaan Curug Cigentis sendiri melibatkan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Buana Mekar bersama Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH), dengan dukungan dari pemerintah.
Baca juga: Remaja Bekasi Tewas Tenggelam saat Berlibur di Green Canyon Karawang
Kilas Sejarah Curug Cigentis

Marhum menjelaskan, nama Cigentis memiliki sejarah panjang yang berkaitan dengan sosok yang dipercaya sebagai penunggu kawasan tersebut, yakni Nyai Gentis Sari.
“Nama Cigentis itu merujuk ke Nyai Gentis Sari. Sudah ada dari tahun 70-an. Dulu mah belum seperti sekarang, masih hutan,” ungkapnya.
Sebelum dikenal sebagai Curug Cigentis, lokasi ini disebut sebagai Curug Panyipuhan. Baru pada sekitar tahun 1997, kawasan tersebut mulai dibuka sebagai objek wisata dan ditata secara bertahap, termasuk pembangunan tangga untuk akses pengunjung.
Mitos dan Kepercayaan yang Masih Hidup

Selain keindahan alamnya, Curug Cigentis juga dikenal dengan berbagai mitos yang masih dipercaya sebagian masyarakat hingga kini.
Baca juga: Daya Tarik Curug Malela Bandung: The Little Niagara, Harga Tiket dan Fasilitas
Salah satunya adalah keyakinan bahwa tempat ini memiliki daya tarik spiritual yang membuat orang ingin kembali berkunjung.
“Banyak yang datang lagi dan lagi. Ada yang tawasulan, biasanya di waktu-waktu tertentu seperti Mulud atau malam Kliwon,” jelas Marhum.
Ia juga menyebutkan adanya cerita-cerita lama tentang makhluk gaib yang menghuni kawasan tersebut.
“Dulu katanya ada yang melihat seperti peri, bersayap, cantik seperti bidadari. Karena itu juga diyakini ada sosok penunggu, Nyai Gentis Sari,” katanya.
Baca juga: Bocah 7 Tahun di Karawang Dianiaya Ayah Tiri, Ibu Kandung Pun Ikut Pukul?
Tak sedikit pula pengunjung yang datang bukan sekadar berwisata, melainkan karena dorongan batin tertentu.
“Ada yang datang bukan karena wisata, tapi merasa ada panggilan. Biasanya mereka mandi saja di sini,” ujarnya.
Pada masa lalu, sebelum menjadi objek wisata, kawasan ini disebut-sebut kerap digunakan untuk aktivitas ritual. Bahkan, sempat terjadi kejadian kesurupan.
“Dulu sebelum jadi wisata, ini tempat ritual. Pernah juga ada yang kesurupan,” tambahnya.
Curug Cigentis juga dikaitkan dengan sejarah kepercayaan lama, di mana sebagian masyarakat meyakini kawasan tersebut pernah memiliki keterkaitan dengan ajaran Hindu.
Baca juga: Program Prioritas Kantah Karawang di 2026: Fokus PTSL hingga Integrasi Data PBB
Meski kental dengan cerita mistis, Curug Cigentis yang terletak di daerah Mekarbuana, Kecamatan Tegalwaru, Karawang ini tetap menjadi destinasi favorit wisata alam yang buka setiap hari mulai pukul 07.00 hingga 17.00 WIB.
Bahkan, dalam beberapa tahun terakhir, tempat ini juga pernah dikunjungi wisatawan mancanegara hingga sejumlah figur publik.
Dengan perpaduan keindahan alam, sejarah panjang, dan cerita mistis yang menyertainya, Curug Cigentis terus menjadi magnet wisata di wilayah selatan Karawang. (*)









