
Taopik menilai, keputusan Auditia memilih mundur demi merawat ibunya yang sakit merupakan hal yang luar biasa. Namun di sisi lain, pemerintah daerah sebetulnya dirugikan dengan mundurnya Auditia. Sebab, formasi yang tadinya terisi malah kembali kosong. Belum lagi dengan biaya yang dikeluarkan untuk tahapan seleksi hingga penerbitan SK.
“Di satu sisi saya merasa bangga ada anak yang mengorbankan karirnya untuk mengabdi kepada ibunya. Tetapi di sisi lain kita sebetulnya dirugikan karena biaya testing dan lainnya itu kan memakai uang negara. Cuma itu kan hak pribadinya, ya kita persilakan,” jelasnya.
Baca juga: Honorer Bakal Dihapus di 2023, Pemkab Karawang: Jangan Panik!
Mundurnya Auditia sebagai peserta CPNS, kata Taopik, tentu disertai konsekuensi. Auditia tak bisa lagi mengikuti seleksi CASN di tahun-tahun berikutnya.
“Ya, risikonya dia (Auditia) tak bisa lagi ikut seleksi CASN,” tuturnya.
Meski demikian, ia berharap pengorbanan Auditia memutuskan mundur sebagai CPNS Karawang dapat terganti dengan kesuksesan di tempat yang lain.
“Mudah-mudahan Allah mengganti pengorbanannya dengan hal yang lebih baik,” harap Taopik. (kii)








