
“Ular naga ini kami temukan di aliran sungai Curug Cikoleangkak pada malam hari saat herping,” katanya.
“Kami mencari sejak dari Curug Cipanunda di atas KampungTipar, yang ada di wilayah Karawang sampai di Curug Cimata Indung yang hutannya masuk wilayah Purwakarta,” jelasnya.
Baca juga: Ketika Ribuan Burung Raptor dari Siberia, China dan Jepang Melintasi Langit Sanggabuana Karawang
Menurut Deby, ular naga jawa yang menyukai tempat lembab dan berbatu, serta merupakan jenis reptil semi akuatik ini merupakan ular unik dan endemik. Ular naga jawa masuk kategori ular yang tidak berbisa dan cenderung mudah stres.
“Kalau di dalam literatur masuk jenis ular dataran tinggi, tapi pada saat ditemukan di Curug Cikoleangkak berada di ketinggian sekitar 565 m dpl dan ini masih di dataran menengah. Kami temukan waktu itu sedang makan anak katak atau kecebong,” jelas Deby.
Seperti diketahui ular naga jawa adalah ular jenis kecil pemakan ikan dan katak atau kodok serta biasa ditemui di dataran tinggi 1000 m dpl. Ular naga jawa juga merupakan satwa yang sangat sensitif terhadap perubahan lingkungan.
Jika iklim atau agroklimat berubah maka ular naga jawa ini akan gampang stress dan mati.
Dalam IUCN (International Union for Conservation of Nature), Red List status konservasi Xenodermus javanicus masuk dalam kategori LR atau Least Concern, atau memilki resiko kepunahan yang rendah.
Namun dari keterangan Deby Sugiri, ular naga jawa yang unik ini sudah susah ditemui di alam liar. Jika memperlakukan Xenodermus javanicus sebagai indikator ekologi, juga melihat karakter ularnya, masih ditemukan di sekitaran Curug Cikoleangkak ini mengidikasikan ekosistem di sekitar Curug Cikoleangkak masih bagus.








