Beranda Headline Rumah-Rumah Sunyi di Dasar Laut Tangkolak

Rumah-Rumah Sunyi di Dasar Laut Tangkolak

Terumbu karang di karawang
Contoh modul paranje yang berkembang menjadi habitat baru bagi ratusan spesies ikan.

KARAWANG – Kehidupan darat tak pernah benar-benar sunyi. Meski menyusur ke wilayah pelosok, daratan selalu punya iramanya tersendiri. Siang itu ombak kecil bergulung malas di bibir Pantai Tangkolak, angin laut membawa aroma garam dan suara riuh nelayan.

Senin (8/9) di tepi Desa Sukakerta, Karawang yang jauh dari hiruk pikuk kota, ada keramaian yang sulit ditebak. Sekelompok pria—remaja hingga paruh baya—berkumpul di atas lahan pasir, mengaduk semen, berkerumun acak di sekitar dua karung pupuk warna biru yang disangga potongan kayu kecil dengan lilitan kawat dan lembaran besi.

Jam tangan di lengan seorang pria bertubuh tegap, menunjukkan pukul 11.00 WIB. Dia adalah Dama Saputra (37), pemimpin dari kelompok Panduan Alam Sendulang (PAS). Ia berdiri tegap disamping pohon, sambil mengawasi belasan pria yang tengah sibuk bekerja berat.

Baca juga: Gempungan Pelayanan Publik di Desa Sukamaju, Bupati Larang Jalan Jadi Jalur Tambang

Dari jauh, orang mungkin menyangka mereka tengah membangun pondasi rumah. Nyatanya yang mereka rakit bukanlah bangunan untuk makhluk darat, melainkan rumah untuk kehidupan laut.

“Ini namanya paranje,” kata Dama sambil menunjuk rangka sederhana yang terlihat seperti kurungan ayam. “Nanti ini ditenggelamkan ke laut. Untuk tempat tumbuh terumbu karang,” lanjutnya.

Karena berbahan dasar semen, paranje satu ini tentu bukan untuk mengurung ayam. Beton berat itu, berfungsi sebagai modul rehabilitasi terumbu karang.

Setelah dirakit dan dicor, ia dibiarkan kering selama sebulan sebelum akhirnya diturunkan ke dasar laut. Di sanalah, fragmen-fragmen karang akan ditempelkan, dan perlahan tumbuh menjadi koloni baru.

Warga menyebutnya sebagai “rumah laut” alias tempat hidup baru untuk ekosistem yang dulu nyaris hilang.

Baca juga: 392 Tahun Karawang, Ketua DPRD Ingatkan PR Pengangguran dan Sampah

Perjalanan Tangkolak Menuju Pulih

Dama menjelaskan, cerita laut Tangkolak bukan hanya tentang air asin dan perahu nelayan. Perairan ini menyimpan jejak sejarah panjang, terutama sejak era Kongsi Dagang Hindia Timur Belanda (VOC). Di masa lalu, kapal-kapal dagang karam di sini. Hingga kini, pecahan keramik, guci, bahkan koin logam sesekali masih ditemukan di dasar laut.

Namun kejayaan itu datang bersama luka. Sejak tahun 1980-an, banyak penyelam dan pemburu harta karun datang ke Tangkolak.

Terumbu karang di karawang
Pembuatan modul paranje oleh warga setempat dipandu PHE ONWJ.

“Ya, itu dulu jaman bapak saya,” katanya.

Kala itu aktivitas pencarian barang antik berlangsung dengan intensitas tinggi, tanpa adanya kejelasan regulasi.

Keterbatasan pengetahuan dan kebutuhan ekonomi, juga mendorong warga lokal untuk menyelam dan mencari ikan mengenakan alat bantu seadanya, seperti mesin kompresor yang biasa kita temui di toko bengkel.

“Mayoritas kan di sini pencari ikan dengan cara menyelam. Berhubung, namanya nelayan, secara ekonomi juga belum mencukupi beli alat yang lebih safety, makanya kita lari ke manual, pake alat kompresor untuk tambal ban,” ungkapnya.

Baca juga: Catat Sejarah, Karawang Pecahkan Rekor MURI Bazar UMKM Terlama di RI

Bahkan, kata Dama, warga di wilayah sekitar Tangkolak kala itu, kerap memburu terumbu karang untuk dijadikan pondasi rumah.

Nanang (50) seorang nelayan dari Dusun Tangkolak, membenarkan hal tersebut. Sebagai keturunan nelayan, ia ingat bagaimana dulunya, karang sering dipotong dan diangkut ke daratan, untuk dijadikan pondasi rumah. “Waktu itu orang menganggap karang lebih kuat dari bata, tapi laut jadi korban,” kenangnya.

Lama-kelamaan, tegas dia, kerusakan alam pun tak terhindarkan. Terumbu karang rusak, air laut keruh, dan jumlah ikan semakin berkurang. Ekosistem alami seperti kehilangan daya topangnya.

Padahal jika dilestarikan, Perairan Tangkolak bisa jadi wisata dengan kekayaan alam dan sejarah yang tak tertandingkan di Karawang. Hal ini dinyatakan langsung oleh Obar Subarja, Ketua Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Karawang.

“Udah ditetapkan jadi Museum Bawah Laut, tapi kewenangannya oleh KKP. Saya sempat baca penelitiannya, kemungkinan kapal-kapal disitu karam karena kecelakaan. Jejaknya memang banyak, bahkan dulu sempet harta karun yang ditemukan mau disimpan ke galeri Pemda, tapi kembali lagi bukan kewenangan kami,” jelas Obar.

Menurutnya keberadaan Tangkolak amat penting karena dua hal. “Dilihat dari kesejarahannya, lalu dari potensi wisatanya. Karena satu-satunya tempat di Karawang yang ada spot jernih untuk menyelam,” tambahnya.

Karang yang Malang, Kini Punya Orang Tua Asuh
Terumbu karang di karawang
Terumbu karang di Kawasan Tangkolak, Karawang.

Tahun 2019 menjadi titik balik. Sebuah insiden kebocoran pipa memicu perhatian publik. Untuk memantau dampak lingkungan, Dr. Wazir Mawardi, ahli terumbu karang dari Institut Pertanian Bogor (IPB), datang ke Tangkolak.

Dari pantai, laut terlihat tak menjanjikan—coklat, keruh, dan tampak mati.

“Pertama saya kesini, dalam hati bertanya-tanya, memang ada terumbu karang disini?,” ujar Wazir.

Setelah meninjau langsung bersama warga, akhirnya ia menemukan kehidupan terumbu karang, meski kondisinya cukup menghawatirkan. Wazir mengaku takjub, air yang keruh pun berangsur jernih seiring menjauhnya perahu dari pinggiran pantai.

“Saya berangkat kesana diantar mas Dama, masih mikir gak mungkin deh ada terumbu karang. Waktu itu jarak pandang rendah, hanya 1 meter di dalam air. Tapi saya ketemu terumbu karang, jadi amazed, kaget juga. Meski kondisinya tidak sebagus terumbu karang di daerah lain, ” katanya.

Usai meninjau karang, Wazir menilai, Pantai Tangkolak bisa menjadi wisata bahari potensial, karena memiliki hutan mangrove, area diving dan snorkeling hingga museum bawah laut.

Itulah yang memicu ide pemulihan berbasis masyarakat. Hingga akhirnya program OTAK JAWARA (Orang Tua Asuh Karang Laut Utara Jakarta dan Jawa Barat) menyentuh Tangkolak pada tahun 2022.

Baca juga: Modul Terumbu Karang Buatan ke-420 di Pesisir Karawang dari PHE ONWJ 

Program ini merupakan kolaborasi antara Pertamina Hulu Energi Offshore North West Java (PHE ONWJ), Pusat Penelitian Lingkungan Hidup IPB, pemerintah desa, dan masyarakat setempat.

Salah satu bentuk intervensi yang mereka lakukan adalah pembuatan modul transplantasi. Desainnya dikembangkan dari pengalaman konservasi di Pulau Biawak. Saat itu modul yang diterapkan bernama honai, yang kini bertransformasi menjadi paranje.

“Paranje itu bentuk penyempurnaan. Kami memulai ini sudah sejak 2016, awalnya di Pulau Biawak sampai dengan 2018. Di tahun 2022 kami melakukan pengembangan dan perluasan program ke Dusun Tangkolak,” jelas Ahmad Salman Alfarisi, Associate Monitoring Pemulihan Environmental PHE ONWJ.

Salman mengatakan, pihaknya hanya akan melakukan intervensi selama 5 tahun di Dusun Tangkolak. Selepas itu, warga Tangkolak bisa merakit modul sendiri tanpa perlu teknologi rumit, karena membuat paranje hanya butuh alat-alat sederhana.

Salman memaparkan bahwa hingga 2025, telah dibuat dan ditenggelamkan sebanyak 420 paranje di perairan Tangkolak, mencakup area seluas 0,28 hektare. Fragmen karang yang ditanam telah mencapai 3.479 unit. Dampaknya pun sudah mulai terlihat. Jumlah ikan meningkat signifikan, dari 748 ekor pada 2022 menjadi 1.467 ekor pada 2025.

“Kalau untuk keseluruhan termasuk Indramayu, totalnya udah 770 modul yang ditenggelamkan. Misi kami, tentunya ingin mengembalikan ekosistem laut,” paparnya.

Kini, pantai Tangkolak tak hanya tempat perahu bersandar. Ia menjadi ruang belajar, tempat generasi muda mengenal laut lebih dalam. Proyek paranje menjadi bukti bahwa pemulihan lingkungan bisa dimulai dari tekad komunitas kecil.

Baca juga: Momen HUT ke-392 Karawang, Dedi Mulyadi Singgung soal Pendidikan hingga Jalan

“Tinggal kita, penerus-penerus gimana caranya memulihkan ekosistem yang rusak. Karena pengennya, kedepan ini dorong untuk pengembangan wisata juga,” sambung Dama.

Tvberita berkesempatan meninjau langsung, mulai dari pembuatan paranje, hingga proses penurunannya ke dasar laut. Kami diajak ke Karang Sendulang menaiki kapal diesel, jarak tempuhnya kurang lebih memakan waktu 45 menit dari bibir pantai.

Sambil merenung saya tersadar, rumah-rumah kecil dari semen itu telah tersebar di dasar laut Tangkolak. Tidak terlihat dari permukaan, tidak pula ramai diberitakan. Tapi dari dalam, mereka mulai menjadi tempat tinggal baru bagi karang, ikan, dan kehidupan yang sempat menghilang.

Perlahan, laut yang sempat terabaikan mulai bicara lagi, bukan lewat gelombang, tapi lewat pulihnya kepercayaan antara manusia dan alam. (*)