Beranda Headline Rusak, Kusam dan Dicap Angker: Potret Kehidupan di Rusunawa Adiarsa Karawang

Rusak, Kusam dan Dicap Angker: Potret Kehidupan di Rusunawa Adiarsa Karawang

Rusunawa adiarsa karawang
Cat bangunan Rusunawa Adiarsa tampak mengelupas di banyak sisi. Warna dinding yang pudar, retakan yang memanjang, hingga noda lembap menjadi pemandangan pertama yang menyambut.

KARAWANG – Cat bangunan Rusunawa Adiarsa tampak mengelupas di banyak sisi. Warna dinding yang pudar, retakan yang memanjang, hingga noda lembap menjadi pemandangan pertama yang menyambut. Dari luar, bangunan ini terlihat tua dan nyaris ditinggalkan waktu.

Namun begitu melangkah masuk, suasana berbeda terasa.

Lorong-lorong sempit di tiap lantai dipenuhi jemuran pakaian. Beberapa pot tanaman berjajar di depan kamar, memberi sedikit kehidupan di tengah tembok kusam. Suara anak-anak yang bermain memecah kesan sunyi yang selama ini melekat pada rusunawa yang dikenal “angker” tersebut.

Baca juga: Sidak BKPSDM Karawang, ASN Disperindagkop-UKM yang Patuhi WFH Hanya 1 Orang

Di balik stigma itu, sekitar 40 kepala keluarga masih bertahan hidup di dalamnya.

Salah satunya Tomas, penghuni lantai 1 yang baru sebulan tinggal di rusunawa tersebut. Ia memilih tinggal di sana bukan tanpa alasan.

“Ya karena nggak punya pilihan,” ujarnya singkat.

Rusunawa adiarsa karawang
Salah satu penghuni Rusunawa Adiarsa memperlihatkan kondisi bangunan rusunawa

Dengan tarif sewa Rp200 ribu per bulan untuk lantai 1, rusunawa ini menjadi opsi paling realistis baginya. Apalagi saat ini ia masih belum memiliki pekerjaan tetap.

“Belum kerja, lagi nyari-nyari. Susah sekarang,” katanya.

Ia tinggal bersama orang tuanya di kamar sederhana yang menjadi tempat berteduh sementara di tengah kondisi ekonomi yang belum stabil.

Baca juga: Mobil Hybrid SMK PGRI Telagasari ‘Test Drive’ di Musrenbang Karawang, Bupati Aep Bangga

Di Rusunawa Adiarsa, tarif sewa memang tergolong murah. Lantai 1 dipatok Rp200 ribu per bulan, lantai 2 Rp150 ribu, dan lantai 3 Rp135 ribu. Harga ini jauh di bawah biaya kontrakan di luar yang bisa mencapai Rp700 ribu per bulan.

Bagi banyak warga, pilihan tinggal di sini bukan soal nyaman atau tidak, tetapi soal mampu atau tidak.

Di lantai dua, suasana sedikit berbeda terasa saat memasuki salah satu kamar milik Mimi Triana (53). Ia tinggal bersama suami dan dua anaknya sejak 2020.

Berbeda dengan beberapa kamar lain yang tampak remang, kamar Mimi justru terlihat terang dan rapi. Lantainya mengkilap, ruangan harum, dan barang-barang tersusun dengan baik. Tak ada kesan angker yang terasa di dalamnya.

“Di sini itu kebanyakan yang sudah berkeluarga. Kerjanya macam-macam, ada kuli bangunan, tukang parkir. Anak-anak juga banyak yang masih sekolah,” ujarnya.

Ia menyebut, sebagian penghuni bahkan sudah tinggal cukup lama, mulai dari 8 hingga 13 tahun. Mayoritas berasal dari kalangan menengah ke bawah yang tidak memiliki banyak pilihan tempat tinggal.

Baca juga: Bolos Sekolah di Warkop, Tujuh Siswa SMP Diamankan Satpol PP Karawang

Sebelum pindah ke rusunawa, Mimi mengaku sempat mengontrak selama 12 tahun. Namun tingginya biaya membuatnya akhirnya memilih pindah.

“Kalau di luar bisa sampai Rp700 ribu. Di sini lebih terjangkau,” katanya.

Meski demikian, ia tak menampik kondisi bangunan yang semakin menua. Atap bocor, fasilitas terbatas, hingga air yang terkadang sulit menjadi bagian dari keseharian.

“Bangunan lama, bocor di mana-mana. Air juga kadang susah,” ucapnya.

Rusunawa adiarsa karawang
Cat bangunan Rusunawa Adiarsa tampak mengelupas di banyak sisi. Warna dinding yang pudar, retakan yang memanjang, hingga noda lembap menjadi pemandangan pertama yang menyambut.

Selain persoalan fisik bangunan, tantangan lain datang dari kesadaran penghuni. Mimi menyebut masih ada warga yang menunggak pembayaran sewa dan kurang kompak dalam menjaga kebersihan lingkungan.

“Padahal bayar itu buat fasilitas juga. Kalau diajak kerja bakti suka kurang kompak,” katanya.

Ia menambahkan, upaya gotong royong sebenarnya pernah rutin dilakukan, namun kini mulai berkurang karena minim partisipasi.

Di satu sisi, pemerintah daerah disebut pernah berencana melakukan perbaikan. Namun menurutnya, rencana itu terkendala karena kurangnya kerja sama dari para penghuni sendiri.

“Kalau penghuninya kompak, pasti bisa lebih baik,” ujarnya.

Rusunawa adiarsa karawang
Cat bangunan Rusunawa Adiarsa tampak mengelupas di banyak sisi. Warna dinding yang pudar, retakan yang memanjang, hingga noda lembap menjadi pemandangan pertama yang menyambut.

Rusunawa Adiarsa memiliki sejarah tersendiri. Berdasarkan informasi, Rusunawa Adiarsa dulunya merupakan bekas kamar mayat rumah sakit. Menurut Mimi, bangunan ini sempat digunakan sebagai tempat pengungsian saat banjir tahun 2010, bahkan pernah dikontrak oleh pesantren asal Bekasi pada tahun 2015. Namun stigma sebagai bekas kamar jenazah membuatnya lama tidak diminati.

Baca juga: Proyek KRL Masuk Karawang Sudah Review DED, Depo Akhir Disiapkan di Cikampek

Kini, meski sebagian unit kosong dan beberapa bagian rusak, kehidupan tetap berjalan di dalamnya.

Di lorong yang kusam, anak-anak tetap bermain. Di kamar-kamar sempit, keluarga-keluarga kecil bertahan. Dan di tengah bangunan tua yang kerap dianggap menyeramkan, ada orang-orang yang justru berusaha menghadirkan kehangatan.

Seperti yang dilakukan Mimi. Rusunawa ini bukan tentang cerita masa lalu atau kesan angker yang melekat. Lebih dari itu, ini adalah tempat untuk bertahan hidup, rumah sederhana yang tetap ia jaga agar layak dihuni.

“Harapannya sih diperbaiki, jadi lebih layak. Tapi ya harus sama-sama,” tutupnya. (*)