Kepada Tvberita.co.id, Luki membantah telah main mata dengan pihak Rumah Sakit Lira Medika. Ia mengaku tidak mengenal sama sekali Lira Medika dan tidak pernah membuat MoU atau perjanjian kerja sama apapun dengan Rumah Sakit sejak dirinya ditempatkan sebagai kepala UPTD I DLHK tahun 2018an lalu.
Dikatakan Luki sepengetahuan dirinya, pengangkutan sampah non medis milik Lira Medika tersebut setelah habis kontrak kerjasama dengan DLHK, kemudian dikerjasamakan dengan sebuah yayasan.
“Dan jujur saya juga tidak mengetahui apakah ada MoU atau tidak, antara pihak Rumah Sakit dengan yayasan tersebut karena memang tidak pernah ada tembusan pelaporan kepada kita (UPTD I DLHK, Red),” kata Luki mengawali penjelasannya.
Dan terkait temuan limbah medis di TPS, Luki menegaskan itu bukan ranah kewenangan pihaknya. Karena UPTD I hanya mengurusi masalah limbah non medisnya saja, dan hal itu sudah ia informasikan kepada para petugas kebersihan di UPTD nya.
Adapun soal vidio yang ramai diperbincangkan publik, Sekilas Luki pun mengulas, jika pihaknya pada tanggal 2 Februari mendapatkan laporan dari Kepala Desa Palumbonsari bahwa sampah di TPS sudah sangat menumpuk.
Sehingga kemudian ia pun kemudian segera bergerak melakukan pengecekan kendaraan-kendaraan mana saja yang masuk ke TPS dan membuang sampah disana.
“Saya fokus memantau kendaraan-kendaraan pengangkut, bukan memantau sampah-sampahnya, karena seharusnya mobil-mobil itu membuang sampahnya langsung ke Jalupang bukan ke TPS,” ujar Luki seraya memperlihatkan rekaman vidio dirinya sedang memantau kendaraan-kendaraan pengangkut sampah tersebut.
Dan didalam vidio yang sama, Luki juga memperlihatkan rekaman dirinya mendekati dan menegur sejumlah orang yang sedang memilah-milah tumpukan sampah, tepatnya tanggal 2 Februari 2020, pukul 14.30 WIB, dan ia pun mengaku tidak mengenal siapa mereka.
“Saya samperin dan saya tanya itu sampah dari mana, dan kata mereka itu adalah sampah dari Lira Medika, yang kata mereka sedang dipilah limbah ekonomisnya. Untuk kemudian diangkut ke Jalupang, kata orang tersebut,” jelas Luki lagi, yang memang nampak dalam cuplikan vidio tersebut sejumlah orang sedang memilah-milah sampah ekonomis diatas tumpukan-tumpukan sampah didalam kantong hitam yang diduga berisi sampah medis milik Lira Medika.
“Saya pun langsung mengkonfirmasi ke petugas sampah saya, saya tidak tahu sama sekali jika kemudian disampah itu ada limbah medisnya, karena plastik sampah itu berwarna hitam sehingga saya mengira itu hanya sampah non medis biasa,” imbuhnya lagi.
Kaitan kendaraan pengangkut sampah milik DLHK, Luki membetulkan jika sejumlah kendaraan dikelola oleh pihak ketiga, sebanyak 5 kendaraan awalnya, namun saat ini diungkapkan Luki hanya tinggal 2 kendaraan.
“Apakah pihak yayasan ini kemudian melakukan pengangkutan sampah dari Lira Medika saya tidak tahu detail, yang saya tahu domain yayasan hanyalah membantu mengontrol dan mengawasi sampah-sampah mana saja yang belum diangkut, karena untuk mengangkut sampah medis transporter harus sudah punya sertifikat ijin dari Kemekumham,” jelas Luki.
Luki pun mengungkapkan SOP pengangkutan sampah di Rumah Sakit Lira Medika yang terbilang ketat, dimana petugas tidak boleh membawa kamera, dan juga tidak boleh membuka bungkusan plastik dilokasi (kantong sampah di Rumah Sakit, Red).
Sehingga petugas pengangkut sampah, menurut Luki dalam keadaan tidak mengetahui ada sampah apa sajakah didalam kantong-kantong plastik tersebut karena kantong sampah itu pun berwarna hitam, sementara sampah medis berwarna kuning. Karena memang mekanisme Rumah Sakit seperti itu.
“Sampai kemudian turun pihak kepolisian saya baru tahu ada limbah medisnya ditumpukan-tumpukan sampah berkantong hitam tersebut, sebelumnya saya tidak tahu meski memang saya sempat berpikir seperti itu,” tandasnya. (nna/dhi)










