Beranda Headline Tak Ada Biaya buat Pulang Kampung, Rudi Pilih Jualan Kopi di Jalur...

Tak Ada Biaya buat Pulang Kampung, Rudi Pilih Jualan Kopi di Jalur Mudik Karawang

Rudi di jalur mudik karawang
Di tengah ramainya arus mudik dan balik Lebaran, sosok Rudi Hartono (50) tampak setia melayani para pengendara di jalur mudik arteri Karawang, tepatnya di Jalan Lingkar Luar Tanjungpura.

KARAWANG — Di tengah ramainya arus mudik dan balik Lebaran, sosok Rudi Hartono (50) tampak setia melayani para pengendara di jalur mudik arteri Karawang, tepatnya di Jalan Lingkar Luar Tanjungpura.

Dengan sepeda motor yang dimodifikasi sederhana, ia menjajakan minuman seperti es, air mineral, dan kopi hangat menggunakan kompor portabel serta satu termos yang dibawanya.

Rudi mengaku baru pertama kali berjualan di lokasi tersebut. Sebelumnya, ia biasa mangkal di Karangpawitan, tepatnya di depan SMA 4. Namun, saran dari rekannya membuat ia mencoba peruntungan di jalur arus mudik yang lebih ramai.

Baca juga: Rafiudin Firdaus Daftar Calon Ketua KADIN Karawang, Ini Sederet Program Kerja yang Disiapkan

“Temen saya bilang di Jalan Baru ramai pas mudik. Saya coba ke sini, Alhamdulillah hasilnya lebih bagus. Sehari bisa sampai 50 gelas, kalau di kampung paling 15 gelas,” ujar Rudi saat diwawancarai pada Minggu, (29/3).

Ia mulai berjualan sekitar pukul 09.00 WIB hingga pukul 02.00 dini hari. Sebelum itu, Rudi tetap menjalankan pekerjaannya sebagai buruh tani di wilayah Rawamerta, Karawang. Dalam sehari, ia bisa memperoleh Rp300 ribu hingga Rp400 ribu saat musim mudik, sementara pada arus balik berkisar Rp100 ribu hingga Rp150 ribu.

Angka tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan saat berjualan di Karangpawitan yang rata-rata hanya Rp60 ribu hingga Rp80 ribu per hari.

Meski demikian, perjuangan Rudi tidaklah mudah. Ia mengaku sempat mencoba membawa lebih banyak termos untuk meningkatkan penjualan, namun banyak yang pecah dan rusak.

Baca juga: Ada 51 Kecelakaan di Karawang Sepanjang Arus Balik-Mudik Lebaran, Ternyata Ini Penyebabnya

“Sebenarnya nggak mau jualan begini, tapi mau gimana lagi. Nyari uang sekarang susah,” katanya.

Rudi merupakan perantau asal Sumedang yang telah 16 tahun menetap di Karawang. Ia tinggal di Desa Sukamerta, Kecamatan Rawamerta, bersama istri dan tiga anaknya yang masih sekolah, mulai dari tingkat SD hingga SMA. Sang istri kini membantu ekonomi keluarga dengan bekerja sebagai juru masak di sebuah SPPG sejak enam bulan terakhir.

Lebaran tahun ini, Rudi memutuskan tidak mudik ke kampung halaman. Biaya yang besar menjadi pertimbangan utama.

“Sekali mudik bisa sampai Rp10 juta, karena banyak saudara. Namanya juga orang rantau, kalau pulang pasti ditunggu. Orang tua juga masih ada, nggak mungkin nggak dikasih,” tuturnya dengan mata berkaca-kaca.

Tahun lalu, ia masih sempat pulang kampung. Namun tahun ini, ia hanya bisa melepas rindu melalui panggilan video, bahkan sambil tetap berjualan.

Rudi juga bercerita tentang perjalanan hidupnya yang penuh liku. Ia sempat menggarap lahan hingga 20 hektare milik orang lain, namun mengalami kegagalan panen dua kali, terutama saat masa pandemi Covid-19. Kini, lahan yang tersisa hanya setengah hektare dan ia kelola sendiri.