Oleh Gustasya Dewantara, S.H.
NIP.199605022024051001
Angkatan IX – Kelompok 02
Pengadilan Agama Karawang
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Pemateri :
Mid Rahmalia, S.E., M. Si
NIP. 19700115 199401 2 001
Menurunnya Selera Kesediaan Input Politik Masyarakat Akibat
Isu Ketidakpercayaan terhadap Birokrasi Politik Praktis di Indonesia
Dalam dunia pasar atau marketing, lazimnya terdapat penjual selaku pihak yang melakukan penawaran atau offering terhadap barang dan/atau jasa, dan di sisi yang lain terdapat pembeli selaku pihak yang melakukan permintaan atau
demanding.
Kedua hal tersebut merupakan
tradisi dan aktivitas yang telah melembaga dalam kelanggengan masyarakat dari dulu
hingga kini. Kedua hal tersebut juga merupakan harmoni dikotomi yang akan senantiasa saling melengkapi dalam keadaan manapun dan dalam padanan analogi apapun termasuk ketika dipersamakan dengan hubungan kausalitas dalam dunia politik praktis yakni masyarakat sebagai pihak yang melakukan input politik, dan pemerintah sebagai pihak yang melakukan output politik. Input politik yang dimaksud sendiri berupa penyuaraan hak dalam agenda Pemilihan Umum, dan output politik sendiri itu berupa terpilihnya pejabat politik yang kelak akan menjadi pemerintah baik itu dalam lembaga eksekutif maupun legislatif, apakah itu pusat maupun daerah. Masukan-masukan (input) yang datang dari komponen lain dalam sistem merupakan energi bagi sistem itu sendiri yang menyebabkan sistem itu berjalan. Masukan itu dikonversi oleh proses sistem politik sehingga melahirkan kebijakan-kebijakan yang otoritatif. Kebijakankebijakan itu mempunyai konsekuensi terhadap sistem politik itu sendiri maupun terhadap masyarakat lingkungannya.¹ Mengingat input merupakan aspek prolog yang penting, keberadaanya adalah pangkal dari romantisme proses politik yang panjang, resiprokatif dan mengidealkan keberlanjutan, namun kendala umum yang terjadi pada saat ini justru pada proses input politik itu sendiri yang mengalami momentum stagnansi, ketidaknafsuan, lesu, atau mudahnya oleh masyarakat awam disebut dengan apatisme politik yang kemudian melahirkan golongan putih ditengah-tengah masyarakat.




