Beranda Ekonomi Melirik Kebun Kopi di Puncak Sempur: Dari Mengulang Sejarah Hingga Potensi Wisata

Melirik Kebun Kopi di Puncak Sempur: Dari Mengulang Sejarah Hingga Potensi Wisata

KARAWANG – Puncak sempur, yang terletak di Desa Cintalaksana, Kecamatan Tegalwaru, Kabupaten Karawang, Jawa Barat, rupanya bukan sekadar menawarkan keindahan alam yang berkabut. Menengok sejarahnya, konon puncak sempur merupakan hamparan perkebunan kopi.

Berangkat dari hal itu, pengusaha sekaligus petani kopi asal Karawang, Saepul Riki bercita-cita menambah daya tarik puncak sempur dengan perkebunan kopi miliknya.

“Kita ingin kembangkan perkebunan kopi di sempur. Konon, di Sempur ini merupakan perkebunan kopi, cuma sepuluh tahun ke belakang pasar kopi tidak jelas, makanya banyak petani kopi beralih ke turubuk. Dan hari ini kita tanami lagi kopi,” ucap Ketua Asosiasi Petani Kopi (APEKI) Karawang ini.

Di samping menjadi nilai ekonomi, bukan hal mustahil perkebunannya kelak menjadi potensi wisata yang edukatif.

Berusaha mewujudkan impiannya, saat ini, Riki tengah fokus menata lahan seluas 6.270 m2 miliknya melalui terasering dan penghijauan. “Tadinya kontur tanahnya kan curam. Kalau kondisi (curam) begitu kan kita gak bisa manfaatkan. Makanya kita terasering.”

Terasering sendiri, ialah memperkecil kemiringan lereng atau mengurangi panjang lereng dengan cara menggali dan mengurug tanah melintang lereng. Singkatnya, terasering adalah suatu pola atau teknik bercocok tanam dengan sistem bertingkat (berteras- teras) sebagai upaya pencegahan erosi tanah.

“Terasering selesai, kita buat dinding penahan tanah untuk mencegah longsor. Sambil berjalan, kita tanami bermacam tanaman, di antaranya damar, tatar wangi, paracis pincai yang fungsinya untuk penahan erosi,” tutur Riki.

“Selebihnya ada pinus, cemara, glondongan, petai, jengkol, duren dan dominannya tanaman kopi, karena tujuan awal kita memang untuk budidaya kopi,” sambungnya.

Melirik peluang pariwisata, ia pun tak menampik hal itu. “Karawang Selatan punya potensi menarik dalam destinasi wisata, karena lokasinya yang strategis didukung udara sejuk dan hamparan indah pegunungan Sanggabuana yang membentang di antara Karawang, Purwakarta dan Bogor.”

“Jika nantinya (destinasi wisata) jadi, ekonomi di Desa Cintalaksana bakal ikut berkembang. Ada serapan tenaga kerja, ada potensi usaha lain yang ikut hidup di wilayah ini,” sambungnya

Hanya saja, Riki tak mau terburu-buru. Bicara pariwisata, bicara jangka panjang. “Pelan-pelan aja, penataan dulu,” kilahnya.

“Wisata itu jangka panjang, itu pun kalau modalnya mencukupi, dan paling penting izinnya sudah ada. Sementara saat ini kita fokus penghijauan dan budidaya kopi saja,” ucap Riki. (kie)

Artikel sebelumnyaDiduga Lakukan Pembohongan Publik, Ini Kata Kasat Pol PP
Artikel selanjutnyaIzinnya Belum Beres, DPRD Karawang Bakal Panggil Rolling Hills