
Author: Profesor Madya Dr. Md. Asrul Nasid Masrom.
Pembantu Dekan (Penelitian, Pembangunan dan Penerbitan), Peneliti Utama, Pusat Penyelidikan Pengurusan Infrastruktur Lestari dan Alam Sekitar (CSIEM). Fakulti Pengurusan Teknologi dan Perniagaan. UTHM. Malaysia

Author: Dr. Uus MD Fadli
Pembantu Rektor Kemahasiswaan dan Alumni. UBP Karawang. Indonesia.
TVBERITA.CO.ID – Penerimaan mahasiswa baru sudah tiba. Saatnya perguruan tingi menerima mahasiswa baru dari lulusan SLA yang selama ini mengikuti bimbingan belajar atau mereka yang baru lulus SLA atau SMK baik negeri maupun Swasta, termasuk yang akan melanjutkan pendidikan diploma ke jenjang sarjana.
Perguruan tinggi dipenuhi dengan keluarga dengan wajah bangga, bersemangat, dan penuh harapan, karena putra putri yang dikandung, dirawat, dan dididiknya dengan penuh kasih kini kini berhasil menginjakkan kaki di gerbang menara gading dan menjadi mahasiswa sesi 2024/2025.
Namun, yang menarik perhatian di era globalisasi yang canggih ini adalah pendidikan tinggi tidak lagi hanya berfokus pada akademik. Dengan munculnya teknologi digital dan perubahan pesat di pasar kerja, mahasiswa pendidikan tinggi perlu dipersiapkan untuk mengembangkan karakteristik holistik untuk menghadapi tantangan yang datang dengan tren digital. Apakah kamu siap? Tepuk-tepuk dada Anda dan tanyakan pikirannya.
Mahasiswa holistik tidak hanya unggul dari perspektif akademik, tetapi juga mahir dalam soft skill dan siap beradaptasi di dunia yang dinamis dan menantang.
Berdasarkan penelitian dan studi sebelumnya, ada beberapa karakteristik utama mahasiswa pendidikan tinggi holistik dalam konteks digital saat ini memerlukan kemampuan menguasai teknologi dan literasi digital, keterampilan berpikir kritis dan kreatif, \keterampilan komunikasi yang efektif, kepemimpinan dan kerja tim di lingkungan virtual, kemampuan beradaptasi dan pembelajaran seumur hidup, etika dan tanggung jawab sosial dalam penggunaan teknologi, serta kesejahteraan fisik dan mental.
Baca juga: Progres Capai 76 Persen, RSUD Rengasdengklok Karawang Ditarget Beroperasi Tahun Depan
1. Kemampuan Menguasai Teknologi dan Literasi Digital
Salah satu ciri utama siswa holistik di era digital adalah kemahiran dalam menguasai teknologi dan literasi digital. Teknologi sekarang menjadi inti dari hampir setiap aspek kehidupan, termasuk pendidikan. Siswa holistik harus berpengalaman dalam menggunakan berbagai alat teknologi seperti perangkat lunak produktivitas, aplikasi pembelajaran online, dan sumber daya penelitian digital.
Literasi digital tidak hanya mengacu pada penggunaan teknologi, tetapi juga kemampuan mengevaluasi, menganalisis, dan menggunakan informasi digital secara cerdas dan etis. Mereka harus peka terhadap keamanan online, privasi data, dan penggunaan media sosial yang bertanggung jawab.
Misalnya, siswa yang mengejar program Manajemen Konstruksi, perlu tenggelam dalam aplikasi perangkat lunak seperti Pemodelan Informasi Bangunan (BIM), AutoCAD, Primavera, dan CostX.
2. Keterampilan Berpikir Kritis dan Kreatif
Selain itu, di dunia digital yang penuh dengan informasi yang liar (dumping information), yang memerlukan kemampuan berpikir kritis dan kreatif. Siswa holistik tidak hanya secara pasif menerima informasi tetapi mereka perlu menganalisis dan mengevaluasi informasi secara mendalam dan sistematis.
Mereka harus dapat membedakan antara sumber informasi yang otentik dan tidak otentik dan dapat membuat keputusan berdasarkan fakta yang akurat. Berpikir kritis juga membantu siswa dalam memecahkan masalah yang kompleks, sedangkan kreativitas diperlukan untuk menemukan solusi inovatif, terutama di bidang yang membutuhkan penelitian atau inovasi teknologi.
3. Keterampilan Komunikasi yang Efektif
Keterampilan komunikasi sangat penting dalam menghadapi tren digital. Era digital memperkenalkan berbagai media komunikasi seperti email, video call, media sosial, dan forum online. Siswa holistik harus mahir dalam berbagai bentuk komunikasi ini, tidak hanya untuk terhubung dengan teman sekelas atau dosen, tetapi juga dalam konteks profesional.
Keterampilan menulis dengan jelas, efektif, etis dan akurat sangat penting di dunia digital yang seringkali membutuhkan komunikasi melalui teks. Selain itu, kemampuan untuk berkomunikasi dalam pengaturan virtual secara langsung melalui aplikasi seperti Zoom atau Google Meet menjadi semakin penting karena menjadi praktik normal saat ini.
Baca juga: Ciri-ciri Orang dengan IQ Tinggi yang Perlu Anda Tahu
4. Kepemimpinan dan Kerja Tim di Lingkungan Virtual
Di era digital, ada berbagai tugas dan proyek yang kini berjalan secara virtual melalui platform kolaboratif seperti Microsoft Teams, Google Drive, atau Slack. Siswa holistik perlu mengembangkan keterampilan kepemimpinan yang fleksibel dan efektif di lingkungan ini. Mereka harus terampil, siap, dan tahu bagaimana memberikan arahan, menyelesaikan konflik, dan menggerakkan tim menuju tujuan yang sama bahkan saat bekerja dari jarak jauh.
Sifat tanggung jawab dalam melakukan tugas secara individu dan sebagai bagian dari tim juga penting untuk mencapai kesuksesan bersama. Kemampuan bekerja dalam kelompok dan memiliki karakteristik kepemimpinan yang kuat dapat membentuk siswa agar lebih tangguh dalam menghadapi tantangan dunia kerja yang nyata.
5. Kemampuan Beradaptasi dan Pembelajaran Seumur Hidup
Arus digital membawa perubahan yang pesat di berbagai bidang. Siswa holistik harus dapat beradaptasi dengan perubahan ini dan selalu siap untuk mempelajari keterampilan baru. Konsep pembelajaran seumur hidup menjadi semakin relevan dalam konteks ini. Mereka perlu terus memperbarui pengetahuan dan keterampilan mereka agar tetap relevan di pasar kerja yang dinamis.
Kemampuan untuk belajar sendiri melalui sumber daya online seperti kursus digital, tutorial video, dan webinar merupakan aset penting dalam membangun keunggulan jangka panjang. Usaha tanpa henti, bertindak tanpa nanti harus diterapkan dalam diri sendiri untuk menjadi mahasiswa yang berani bersaing.
6. Etika dan Tanggung Jawab Sosial dalam Penggunaan Teknologi
Tidak hanya itu, mahasiswa holistik juga perlu menunjukkan tingkat etika yang tinggi dalam penggunaan teknologi. Ini termasuk menjaga keamanan informasi pribadi, menghormati hak cipta, serta berinteraksi secara beradab dalam platform digital. Selain itu, mereka perlu memiliki kesadaran sosial tentang dampak teknologi terhadap masyarakat dan lingkungan.
Berpartisipasi dalam inisiatif yang mempromosikan pembangunan berkelanjutan dan kesetaraan digital adalah salah satu cara siswa holistik dapat memberikan kontribusi positif bagi komunitas mereka. Sebagai mahasiswa di lembaga pendidikan tinggi, sangat penting untuk toleran, berintegritas, tidak menyalahgunakan informasi dan tidak menggunakan teknologi untuk tujuan negatif.
Baca juga: Perkenalkan Nusron Wahid, Menteri ATR/BPN Baru di Kabinet Merah Putih
7. Kesejahteraan Fisik dan Mental
Dalam mengejar keunggulan akademik dan soft skill, siswa holistik juga menekankan pada kesejahteraan fisik dan mental mereka. Dunia digital seringkali mengharuskan siswa untuk berada di depan layar komputer atau perangkat seluler untuk jangka waktu yang lama, yang dapat berdampak buruk pada kesehatan.
Oleh karena itu, penting bagi mereka untuk menerapkan gaya hidup sehat, termasuk istirahat yang cukup, berolahraga, dan menjaga nutrisi. Kesejahteraan mental juga perlu dipelihara melalui manajemen stres yang baik, seperti dengan mengatur waktu dengan bijak dan mencari dukungan saat dibutuhkan.
Kesimpulannya, menjadi mahasiswa pendidikan tinggi holistik di arus utama digital membutuhkan lebih dari sekadar keunggulan akademik. Ini membutuhkan keseimbangan antara penguasaan teknologi, soft skill, tanggung jawab sosial, dan kesejahteraan pribadi.
Di dunia yang semakin digital ini, siswa juga perlu fleksibel, etis, dan mau belajar seumur hidup. Dengan mengembangkan karakteristik ini, mahasiswa tersier saat ini mampu bersaing secara lebih efektif secara global dan menghadapi tantangan masa depan dengan kepercayaan diri dan keterampilan.
Yang penting sebagai mahasiswa baik dari dalam maupun luar kota adalah selalu siap menghadapi perubahan digital yang dinamis dan memahami tujuan keberadaannya di menara gading. (*)









