Beranda Headline Benarkah Kelamaan Scroll Medsos Bisa Picu Gangguan Mental Remaja? Ini Penjelasan Psikiater

Benarkah Kelamaan Scroll Medsos Bisa Picu Gangguan Mental Remaja? Ini Penjelasan Psikiater

Mental remaja medsos
Ilustrasi bermain media sosial. Foto: istimewa

KARAWANG – Kebiasaan menghabiskan waktu dengan menggulir media sosial (medsos) dan mengonsumsi konten singkat secara terus-menerus dapat menjadi salah satu faktor yang memengaruhi kesehatan mental remaja.

Psikiater Primaya Hospital Karawang, dr. Anggi Aviandri Putra, Sp.KJ, mengatakan paparan konten digital yang serba cepat membuat remaja terbiasa menerima rangsangan instan dalam waktu singkat.

“Remaja zaman sekarang memang terpapar banyak informasi media sosial, banyak konten-konten yang sifatnya cepat. Contohnya scroll TikTok, secara dopaminnya juga jadinya berlebih dan terus-menerus dalam jangka panjang,” ujar Anggi kepada tvberita, Selasa (8/9).

Baca juga: Join Sehat Fitness Hadir di Karawang, Lengkapi Fasilitas Gym dengan Kedai Santai

Menurutnya, kondisi tersebut dapat membuat remaja lebih mudah merasa bosan dan berpotensi kesulitan menghadapi tekanan hidup apabila tidak memiliki kemampuan regulasi emosi yang baik.

“Sehingga itu pun juga mungkin bisa jadi berisiko untuk terjadinya gangguan mental tersendiri. Kita sudah terbiasa dipacu dopaminnya dengan konten-konten yang cepat, sehingga anak-anak zaman sekarang gampang sering bosan,” katanya.

Meski demikian, Anggi menegaskan gangguan mental tidak dapat disimpulkan hanya dipicu oleh penggunaan media sosial. Ia menyebut kondisi mental dipengaruhi banyak faktor yang saling berkaitan, mulai dari aspek biologis, psikologis, lingkungan hingga spiritual.

Mental remaja medsos
Psikiater Primaya Hospital Karawang, dr. Anggi Aviandri Putra, Sp.KJ,.

“Kalau dibilang pemicunya apa, bingung jawabnya. Karena perlu ditelusuri satu per satu. Lingkungannya seperti ini, status spiritualnya seperti itu, psikologisnya cara menenangkan dirinya bagaimana, secara biologi ada atau tidak,” jelasnya.

Baca juga: Abu Vulkanik Krakatau Menyebar ke Karawang, Sekolah Dipastikan Tetap Berjalan Normal

Selain media sosial, tekanan lingkungan seperti perundungan atau bullying juga dapat memengaruhi kondisi mental remaja. Namun, dampaknya berbeda pada setiap individu.

“Ada anak-anak yang dibully juga biasa saja, tapi ada juga anak yang dibully, turun banget mentalnya karena tadi ada faktor yang lainnya,” tuturnya.

Di sisi lain, Anggi melihat meningkatnya kesadaran remaja terhadap isu kesehatan mental sebagai perkembangan positif. Menurutnya, banyak remaja kini lebih cepat mengenali perubahan kondisi diri dan menyadari kapan membutuhkan bantuan profesional.

“Awareness-nya juga makin meningkat, sehingga banyak yang lebih terpapar pandangan-pandangan mengenai mental health. Jadi, ‘Apa aku merasa begini? Apa aku butuh bantuan profesional?’,” ungkapnya.

Baca juga: Abu Vulkanik Krakatau Menyebar ke Karawang, Sekolah Dipastikan Tetap Berjalan Normal

Untuk menjaga kesehatan mental, Anggi menyarankan remaja memiliki ruang bercerita kepada orang yang dipercaya. Ia menilai koneksi sosial menjadi salah satu cara penting untuk mengelola emosi dan mengurangi beban pikiran.

“Yang paling penting adalah kita buat koneksi untuk kita bisa keluarin semua apa yang kita pikirin, apa yang kita rasain. Tentu kepada orang-orang yang kita percaya,” katanya.

Selain itu, remaja juga dapat menyalurkan perasaan melalui journaling, menekuni hobi, serta rutin berolahraga. Aktivitas tersebut dinilai efektif membantu regulasi emosi sekaligus meningkatkan suasana hati.

Baca juga: Ratusan Petani Kepung Kantor ATR/BPN Karawang, Kecam Klaim Sepihak Reforma Agraria

“Dengan olahraga yang rutin kan membuat perasaan kita happy, karena hormon yang bikin kita bahagia, yang bikin kita tenang, keluar setelah olahraga,” ujarnya.

Anggi juga mengingatkan orang tua dan lingkungan terdekat untuk lebih peka terhadap perubahan perilaku remaja, seperti menjadi lebih murung atau mengalami perubahan pola aktivitas. Jika ditemukan tanda-tanda tersebut, ia menyarankan agar remaja diberikan ruang aman untuk bercerita tanpa dihakimi.

“Ketika ada perubahan pola aktivitasnya, kita bisa lebih aware akan hal itu dan kita bisa tawarkan bantuan. Apa yang kita bisa bantu, apa yang dia mau cerita, boleh tanpa dihakimi,” pungkasnya. (*)