Beranda Karawang Di Depan Gedung DPRD, Siswa SMK PGRI Telagasari Pamerkan Alat Bakar Sampah...

Di Depan Gedung DPRD, Siswa SMK PGRI Telagasari Pamerkan Alat Bakar Sampah Ramah Lingkungan

Lewat tangan-tangan kreatif siswa Teknik Permesinan dan Pengelasan, alat dengan material besi berdiameter 60 itu, mampu menghasilkan api panas dengan tekanan uap air yang dipancing lewat tungku yang sudah di campuri oli bekas dan atau minyak jelantah. Bahkan, hasil karyanya itu, masuk 25 nominasi nasional dan siap berpartisipasi dalam ajang Toyota Eco Youth ke 12 Tahun 2022 pada Maret lalu.

“Ini harus dikembangkan, bahkan jika beberapa koreksi bisa diwujudkan seperti suhu panas yang stabil dan penyempurnaan lainnya, alat ini bisa di manfaatkan untuk masyarakat dari anggaran Pokok – pokok pikiran (Pokir) DPRD, bisa tiap desa 1 unit,” kata Anggota DPRD Karawang Natala Sumedha.

Sementara Kepala Dinas LHK Karawang Wawan Setiawan mengatakan, selain Eco Enzyme yang menjadi perhatian, alat penanggulangan sampah hasil karya SMK PGRI Telagasari ini kami pertimbangkan. Selain harus di tambah proses uji, rencana menjadi wakil Karawang dan Jabar ke tingkat Nasional untuk mesin Sakeur Dalang ini, sangat ia apresiasi dan siap untuk pengembangannya.

“Nanti kalau juara nasional, ayo datang ke kantor LHK, kita harus dorong dan kembangkan lebih lanjut,” ujarnya.

Wakasek Kesiswaan SMK PGRI Telagasari Kiki Indraputri S.pd sebelumnya mengatakan, karya mesin sakeurdalang ini sudah disosialisasikan di Bandung. Mesin ini, bukan saja siap menampung jenis sampah yang tidak bisa di daur ulang, tetapi juga bisa memanaskan sampah jenis organik menjadi pupuk organik kering. Sehingga saat sosialisasi, target awalnya adalah mesin pengolah sampah, tetapi justru diminati jadi alternatif kompor pengolahan untuk produsen tahu tempe yang memiliki kapasitas besar

“Iya, mesin pengolah sampah dengan pembakaran melalui uap air ini sekarang masuk 25 nominasi nasional dan siap berpartisipasi di Toyota Eco Youth ke 12 yang di gelar Maret ini,” ungkapnya.

Baca Juga :   Datangi Kantor Kejaksaan, Sekda Acep Bantah Diperiksa soal Pokir: Silaturahmi Aja

Baca juga: Hebat, SMK PGRI Telagasari Sabet Juara 3 LKS Welding se-Jawa Barat

Api yang besar karena adanya tekanan uap air ini di hasilkan, sebut Kiki, merupakan hasil modifikasi alat dan medianya. Selain tabung berdiameter 60, media penyerta juga harus disiapkan seperti air, oli bekas dan atau jelantah.

Adapun rinciannya, sebut Kiki, dalam durasi sekitar 45 menit, tabung berdiameter 60 itu di isi air sekitar 600 mili, kemudian tungkunya diisi oli bekas sekitar 500 Mili atau juga bisa dengan minyak jelantah, namun demikian bisa ditambahkan sedikit spirtus atau bahan bakar dengan berbanding 4:1 dari oli atau jelantah. Hanya saja, setiap takaran itu, selama proses pembakarannya tetap harus terus termonitor, baik takaran air maupun media lainnya seperti oli di tungkunya.

Karena panas, sambung Kiki, air ini jadi uap dan menekan hingga apinya besar. Air yang jadi uap itu nampak seperti blower yang sambungan lainnya lagi, bisa untuk menetralisir asapnya, seperti penyaringan asap,” ulasnya.

Pesan dari karya mesin Sakeurdalang ini sambung Kiki, adalah mengedukasi masyarakat setidaknya mengurangi atau memininalisir beban urusan volume sampah, bahkan lebih dalamnya, bisa memilah mana sampah organik, sampah non organik dan sampah yang tidak bisa didaur ulang, karena lewat alat ini, ketiganya bisa digarap lewat pengolahan yang bisa bermanfaat, baik peleburan pembakaran dengan ampas rendah dan tidak mengganggu kesuburan tanah, maupun untuk pupuk organik kering, bahkan bisa menjadi alternatif kompor untuk usaha-usaha masyarakat seperti produksi tahu – tempe.

“Penting memilih jenis sampah, insha Allah bukan saja kita karyakan tetapi di terapkan di sekolah, dan sukur-sukur bisa menjawab kebutuhan masyarakat,” ungkapnya. (kii)

1
2
Artikel sebelumnyaSawah Alami Kekeringan, Petani Desa Pusakajaya Utara Minta Pemkab Turun Tangan
Artikel selanjutnyaKejari Karawang Musnahkan Narkoba, Ponsel hingga Senjata Api Rakitan