
KARAWANG – Seorang siswi SD berinisial GA asal Desa Cengkong, Kecamatan Purwasari, Karawang dikabarkan hilang. Situasi itu sempat membuat warga setempat panik dan ramai-ramai menduga GA hilang diculik.
Kejadian itu berawal saat ayah GA hendak menjemput sang anak ke sekolah pada Selasa (13/1). Namun pihak sekolah bilang GA di hari itu tidak masuk sekolah.
Hanya beberapa saksi sempat melihat GA sampai gerbang sekolah, namun tidak masuk ke dalam dan kembali ke arah rumah. Namun setelah ditunggu hingga malam hari, GA pun tak kunjung pulang ke rumah.
Baca juga: Kasus HIV di Karawang Capai 4.581 Orang, Paling Banyak Sasar Usia 25-49 Tahun
Keluarga bersama warga kemudian mencari GA ke beberapa lokasi, termasuk menanyakan ke sejumlah sanak saudara dan teman-temannya, namun tak kunjung ditemukan.
Pihak sekolah pun berinisiatif membuat poster pengumuman anak hilang dan tersebar di media sosial.

Merasa tak membuahkan hasil, keesokan harinya ayah GA pun datang ke Polsek Purwasari untuk membuat laporan.
Baca juga: Belajar dari Bogor, Karawang Bakal Tertibkan Kabel Semrawut yang Ganggu Estetika
“Sempat mau buat laporan polisi, tapi saya bilang tunggu pak, coba cari lagi,” ungkap Kapolsek Purwasari, Iptu Herawati, Rabu (14/1).
Ia pun memimpin langsung pencarian itu, meminta keterangan saksi-saksi dan meminta agar seluruh sudut rumah disisir lagi. Dan benar saja, GA rupanya ditemukan bersembunyi di dalam lemari.
“Dan saya inisiatif untuk minta dicari lagi di rumah, akhirnya ketemu. Posisinya ada di dalam lemari, pintunya memang agak susah dibukanya,” jelas dia.
Saat ditemukan kondisi sang anak dalam keadaan lemas karena tidak makan dan minum selama satu hari.
Baca juga: CSR Kurang Efektif, DPRD Karawang Godok Usulan Raperda Satu Desa Satu Pabrik
Hera menduga, ia bersembunyi di lemari karena takut dimarahi keluarganya karena tidak masuk sekolah.
“Keterangannya itu takut engga masuk sekolah karena telat sudah jam 8. Makanya katanya ngumpet di lemari,” kata Hera.
Berkaca dari peristiwa tersebut, Hera mengimbau agar orang tua lebih memperhatikan kondisi psikologis anak, terutama terkait tekanan yang mereka rasakan saat merasa berbuat salah.
“Iya, anaknya sekarang aman bersama keluarganya,” tandasnya. (*)








