Beranda Headline Jejak Geger Pecinan di Karawang, Kisah Ban Lin Tan dan Perlawanan Abad...

Jejak Geger Pecinan di Karawang, Kisah Ban Lin Tan dan Perlawanan Abad ke-17

Geger pecinan di karawang
Ban Lin Tan di kawasan Kelenteng Sian Jin Ku Poh, Tanjungpura.

KARAWANG – Perayaan Tahun Baru Imlek tak hanya menjadi momen sukacita bagi masyarakat Tionghoa, tetapi juga waktu untuk mengenang sejarah panjang leluhur. Di Karawang, terdapat satu situs bersejarah yang diyakini berkaitan dengan peristiwa Geger Pecinan pada abad ke-17, yakni Ban Lin Tan di kawasan Kelenteng Sian Jin Ku Poh, Tanjungpura.

Sejarawan Karawang, Dharma Gaotama, menjelaskan bahwa Ban Lin Tan memiliki keterkaitan dengan pemberontakan etnis Tionghoa terhadap VOC yang terjadi di Batavia pada kisaran 1677–1700.

“Periode waktunya kurang lebih akhir 1600-an, setelah VOC menguasai wilayah ini. Pemberontakan orang-orang Tionghoa di Jakarta itu sebagian melarikan diri ke arah timur, dan mereka berhenti di Tanjungpura,” ujarnya saat diwawancarai pada Selasa, (17/2).

Baca juga: Kemenag Karawang Ajak Warga Bijaksana Sikapi Potensi Perbedaan Awal Ramadan

Menurut Dharma, sejak dahulu Tanjungpura memang dikenal sebagai kawasan Pecinan dan pusat aktivitas perdagangan. Para pengungsi dari Batavia kemudian berkumpul di wilayah tersebut dan bergabung dengan pasukan Mataram untuk melawan VOC.

Geger pecinan di karawang
Sejarawan Karawang, Dharma Gaotama.

Namun perlawanan itu berujung tragis. Pasukan VOC mengejar hingga ke Tanjungpura dan terjadi pembantaian besar. Para korban kemudian dimakamkan secara massal di satu lokasi yang kini dikenal sebagai Ban Lin Tan.

“Asal-usul nama Ban Lin Tan salah satunya diartikan sebagai 10 ribu orang yang dimakamkan dalam satu lubang yang sama. Konon, korban terdiri dari etnis Tionghoa dan pribumi,” jelasnya.

Baca juga: Menag RI Sambangi Klenteng dan Ponpes, Kemenag Karawang Sebut Wujud Nyata Moderasi

Dharma menyebut, berdasarkan penelusuran arsip kolonial Hindia Belanda dan dokumentasi lama, orang-orang yang dimakamkan di sana memiliki keterkaitan dengan perlawanan terhadap pemerintah kolonial. Catatan tersebut menjadi salah satu bukti sejarah penting tentang perjuangan etnis Tionghoa di wilayah Karawang.

Ban Lin Tan berada tidak jauh dari Kelenteng Sian Jin Ku Poh yang disebut sebagai salah satu kelenteng tertua di Jawa Barat. Keberadaannya diperkuat dengan artefak hiolo atau tempat dupa yang dibawa langsung dari Tiongkok pada masa lampau.

Dijadikan Tempat Maulid oleh Etnik Tionghoa Muslim
Geger pecinan di karawang
Ban Lin Tan di kawasan Kelenteng Sian Jin Ku Poh, Tanjungpura, Karawang.

Dulu, lokasi Ban Lin Tan hanya berupa bangunan sederhana dengan altar dan tulisan aksara Tiongkok. Kini, tempat tersebut telah direnovasi menjadi bangunan permanen dan dirawat oleh yayasan setempat.

Baca juga: Truk Kontainer di Karawang Maksa Masuk Jalan Curam, Terguling lalu Timpa 3 Orang hingga Tewas

Menariknya, situs ini tak hanya menjadi ruang spiritual bagi masyarakat Tionghoa, tetapi juga menjadi simbol akulturasi budaya. Selain ritual tahunan untuk mendoakan arwah leluhur dalam tradisi Tionghoa, lokasi tersebut juga digunakan untuk kegiatan Maulid oleh umat Muslim setempat.

“Di situ sudah terjadi akulturasi antara masyarakat Tionghoa Muslim dan Tionghoa non-Muslim. Jadi bukan hanya tempat sejarah, tapi juga simbol kebersamaan,” kata Dharma.

Situs Ban Lin Tan terbuka untuk umum. Siapa pun dapat berkunjung dengan meminta izin kepada pengelola kelenteng. Meski demikian, tradisi ziarah kini mulai berkurang karena generasi penerus dinilai tidak lagi banyak yang melanjutkan tradisi tersebut.

Baca juga: Kemenag Karawang Ajak Warga Bijaksana Sikapi Potensi Perbedaan Awal Ramadan

Selain Ban Lin Tan, Dharma menyebut peristiwa yang berkaitan dengan konflik etnis Tionghoa di Karawang juga pernah terjadi di Rengasdengklok. Namun, peristiwa tersebut berbeda konteks karena terjadi pada 1999 dan lebih berkaitan dengan konflik sosial.

“Kalau yang benar-benar berkaitan dengan perlawanan terhadap kolonial, yang terekam dengan bukti kuat di Karawang itu Ban Lin Tan,” tegasnya.

Di tengah semarak lampion dan perayaan Imlek, kisah Ban Lin Tan menjadi pengingat bahwa sejarah Tionghoa di Karawang bukan hanya tentang perdagangan dan budaya, tetapi juga tentang perjuangan, pengorbanan, serta akulturasi yang membentuk wajah keberagaman hingga hari ini. (*)