KARAWANG — Gelap malam dan dinginnya udara pukul 02.00 dini hari tak lagi jadi penghalang bagi warga Kampung Cibereum, Desa Jatilaksana, Kecamatan Pangkalan, Karawang.
Saat sebagian besar orang masih terlelap, mereka sudah harus bersiap memacu sepeda motor, menembus pekat menuju area persawahan di ujung desa demi berburu tetes demi tetes air bersih.
Aisyah, warga setempat misalnya, mau tidak mau harus mengantre air bersih sejak dini hari hingga matahari terbit. Ini mesti dilakukan demi memastikan kebutuhan dapur dan mandi di rumah terpenuhi.
Baca juga: PHE ONWJ Pasok 92 Ribu Liter Air Bersih untuk Belasan Desa Terdampak Kekeringan di Karawang
“Ngambil jauh dekat sawah, ngantri dari jam 2 malam sampai pagi. Sehari bisa bolak-balik 5 kali bawa jeriken naik motor,” katanya, Kamis (20/8).
Aisyah bilang, penantian panjang di tengah kegelapan malam bukan tanpa risiko. Antrean yang mengular hingga pagi hari membuat warga harus bersiap menghadapi ancaman hewan liar atau binatang melata di sekitar area persawahan.
Bahkan tak jarang, anak-anak yang hendak berangkat sekolah pun turut dilibatkan untuk membantu mengangkut jeriken air.
“Kan apa sih bawain ininya, apa sih yang pakai keretan gitu kan sendiri-sendiri, otomatis ngantri, susah,” jelasnya.
Baca juga: Ada 8 Perusahaan Terlibat Muluskan Kredit Fiktif Perumahan PT BAS di Karawang
Kemarau panjang tahun ini diketahui menghantam Karawang Selatan lebih keras dibanding tahun-tahun sebelumnya. Sumur warga yang biasanya masih menyisakan air di pagi hari, kata dia, kini mengering total.
”Semenjak tahun 2015 ada saja kekeringannya, setiap tahun ada. Tapi kalau tahun ini lebih parah,” keluh Aisyah.
Merespons kondisi darurat tersebut, kolaborasi lintas sektor langsung diterjunkan ke titik-titik krisis. PHE ONWJ bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Karawang bergerak menyalurkan bantuan total 92 ribu liter air bersih yang didistribusikan secara bertahap hingga 31 Agustus 2026.

Baca juga: Peringati HUT ke-81 RI, UNSIKA Gelar Upacara Khidmat dan Serahkan Satyalancana Karya Satya
Penanganan darurat ini dimulai dari Kampung Aisyah. Satu unit armada tangki BPBD berkapasitas 5.000 liter dikerahkan untuk melakukan pengiriman air secara intensif sebanyak dua rit per hari.
Secara keseluruhan, bantuan air ini ditargetkan mampu menjangkau hingga 15 desa yang tersebar di 5 kecamatan terdampak kekeringan.
Kepala Pelaksana BPBD Karawang, Usep Supriatna, menegaskan bahwa penanganan krisis air ini membutuhkan pendekatan pentahelix yang melibatkan seluruh elemen masyarakat, BUMN, hingga swasta.
Baca juga: Julaeha, Siswi SMAN 3 Karawang yang Menemukan Kepercayaan Diri Lewat Teater
“Penanganan bencana tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah karena ada keterbatasan. Kami mengucapkan terima kasih kepada Pertamina (PHE ONWJ) dan elemen lain seperti BBWS, PMI, BAZNAS, hingga kawasan industri seperti KIM, Surya Cipta, dan Astra yang sudah ikut berkontribusi,” ujar Usep.
Kendati demikian, BPBD berharap dukungan dari dunia usaha tidak berhenti pada pembagian air bersih tanggap darurat saja. Untuk mencegah warga kembali mengantre air di tengah malam pada kemarau berikutnya, dibutuhkan solusi jangka panjang yang berkelanjutan.
“Program pipanisasi, pengeboran sumur dalam, pengolahan air hujan, perbaikan saluran bendungan, hingga pembuatan lubang biopori dan daerah resapan air menjadi agenda vital yang harus direalisasikan bersama,” tandasnya. (*)









