
KARAWANG – Bocah perempuan berusia empat tahun berinisial T, kini menjalani terapi trauma setelah mengalami perlakuan tidak layak saat menjalani perawatan medis di RS Permata Keluarga Karawang.
Ironisnya, peristiwa tersebut terjadi di ruang perawatan berkelas super VVIP, yang seharusnya menjamin pelayanan terbaik.
T adalah anak dari Indah Sari Dewi, sosok ibu yang berjuang selama delapan tahun untuk bisa memeluk sang buah hati. Setelah empat kali gagal menjalani program bayi tabung, Indah berhasil mengandung dan melahirkan T pada upaya kelima.
Baca juga: Remaja yang Berubah Kelamin di Karawang Bakal Dioperasi, Bupati: Rumahnya Direnovasi Agar Layak Huni
Namun, kisah bahagia itu berubah menjadi kepedihan. Dalam sebuah prosedur pemasangan infus, tubuh kecil T dipegangi oleh empat tenaga medis.
Proses tersebut gagal berulang kali, menyebabkan pecahnya pembuluh darah dan memicu trauma mendalam.
“Sejak kejadian itu, anak saya takut berada di keramaian. Dia menjerit saat melihat orang banyak. Padahal dulu dia anak yang ceria,” ujar Indah dengan mata berkaca-kaca.
Rekaman peristiwa tersebut menurutnya sudah diserahkan ke kepolisian. Indah juga menyampaikan keluhannya secara terbuka kepada publik dan memohon perhatian dari tokoh-tokoh masyarakat, termasuk Kang Dedi, untuk membantu mengawal kasus ini.
Baca juga: Agus Predator Seks 19 Anak di Karawang Dituntut 14 tahun Bui dan Denda Rp 1 M
“Kalau kami yang bayar super VVIP saja mendapat perlakuan seperti ini, bagaimana nasib pasien yang hanya mengandalkan BPJS?” tambahnya.
Pihak Polres Karawang telah memanggil sejumlah tenaga medis dari RS Permata Keluarga untuk dimintai keterangan pada Kamis (22/5). Saat ini kasus masih dalam tahap penyelidikan lebih lanjut.
Dia menegaskan, kejadian yang meninpa anaknya menjadi pengingat bahwa pelayanan kesehatan tidak hanya soal fasilitas dan biaya, tapi juga soal kepekaan dan kemanusiaan dalam memperlakukan setiap pasien, terlebih anak-anak yang rentan secara fisik dan emosional.
Baca juga: Balita Gagal Diinfus 12 Kali hingga Pembuluh Darah Pecah, RS di Karawang Dilaporkan ke Polisi
Bantah suntik infus 12 kali
Manajer Marketing RS Permata Keluarga, dr Susi Indrawan, mengakui terdapat pasien balita berinisial T yang dirawat inap pada 28 April hingga 1 Mei 2025 dengan diagnosis tipoid atau typus.
Namun ia membantah tudingan penyuntikan jarum infus berturut-turut sebanyak 12 kali terhadap pasien T.
“Infus 6 kali, jadi 4 kali di UGD, 1 di ruang di rawat inap dan 1 oleh dokter bedah, jadi 6 kali,” ucap Susi, Kamis (22/5).










