Beranda Headline Kisah Mahasiswa RI Tengah Konflik Iran: Internet Diputus, Dengar Ledakan saat Evakuasi

Kisah Mahasiswa RI Tengah Konflik Iran: Internet Diputus, Dengar Ledakan saat Evakuasi

Mahasiswa ri di iran
Seorang mahasiswa asal Republik Indonesia (RI) yang sedang menempuh pendidikan di negara Iran, Muhammad Jawad (26), membagikan pengalamannya saat mengikuti proses evakuasi warga negara Indonesia (WNI).

KARAWANG – Seorang mahasiswa asal Republik Indonesia (RI) yang sedang menempuh pendidikan di negara Iran, Muhammad Jawad (26), membagikan pengalamannya saat mengikuti proses evakuasi warga negara Indonesia (WNI) di tengah meningkatnya ketegangan konflik antara Iran dan Israel-AS.

Jawad merupakan mahasiswa di Al Mustafa International University yang berlokasi di Kota Mashhad, Iran. Ia telah menetap di negara tersebut sejak 2017 untuk menempuh studi pada jurusan Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir.

“Perkenalkan, nama saya Muhammad Jawad. Saya mahasiswa di Al Mustafa International University di Kota Mashhad dan sudah berada di Iran sejak tahun 2017,” ujar Jawad saat diwawancarai pada Rabu, (11/3).

Baca juga: Ramadan di Villaggio Outlets Karawang: Diskon Besar hingga Hadiah Mobil Listrik

Ia menjelaskan, selama konflik berlangsung kondisi di Mashhad relatif aman karena wilayah tersebut tidak menjadi sasaran serangan. Kota Mashhad diketahui berjarak sekitar 10 hingga 12 jam perjalanan darat dari ibu kota Iran, Teheran.

“Karena jaraknya cukup jauh dari ibu kota dan bukan target serangan, kondisi di Mashhad masih bisa dibilang aman,” katanya.

Situasi yang berbeda baru ia rasakan ketika tiba di Teheran untuk mengikuti proses evakuasi yang difasilitasi oleh Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI).

Saat mengikuti pengarahan sebelum keberangkatan, Jawad dan WNI lainnya sempat mendengar suara ledakan yang cukup mengejutkan.

“Ketika kami sedang briefing di KBRI Teheran, tiba-tiba terdengar suara ledakan. Kami yang dari Mashhad cukup kaget karena sebelumnya tidak pernah mendengar suara seperti itu,” tuturnya.

Baca juga: Melihat Kesiapan Jalan di Karawang Jelang Arus Mudik, Sebagian Masih Rusak

Setelah dilakukan pengecekan, suara tersebut ternyata berasal dari sistem pertahanan udara Iran yang sedang diaktifkan untuk mengantisipasi serangan.

Jawad juga menjelaskan bahwa sejak serangan pertama yang terjadi pada 28 Februari 2026, pemerintah Iran sempat memutus akses internet internasional. Beberapa aplikasi seperti WhatsApp, Telegram, dan Instagram tidak dapat digunakan.

Meski demikian, komunikasi antar WNI tetap bisa dilakukan melalui aplikasi lokal yang tersedia di Iran.

“Internet internasional memang diputus, tapi aplikasi dalam negeri masih bisa digunakan. Jadi kami masih bisa berkomunikasi dengan sesama WNI maupun dengan pihak KBRI,” jelasnya.

Beberapa hari setelah serangan, KBRI Teheran kemudian mengeluarkan surat edaran bagi WNI yang ingin mengikuti proses evakuasi untuk terlebih dahulu mengisi formulir pendaftaran.

Baca juga: Pesantren Bersatu, Seribu Santri Khotmil Quran dan Doakan Karawang Maju

Jawad bersama istrinya pun memutuskan berangkat dari Mashhad menuju Teheran menggunakan kereta api dengan waktu tempuh sekitar 10 hingga 12 jam.

“Alhamdulillah perjalanan berjalan lancar. Sepanjang perjalanan tidak ada suara ledakan atau kejadian apa pun,” ujarnya.

Dalam gelombang pertama proses evakuasi tersebut, tercatat sekitar 32 WNI dari berbagai kota di Iran dipulangkan ke Indonesia.