KARAWANG – Jika sebuah tempat usaha atau warung biasanya berdiri di titik keramaian, hal berbeda justru dilakukan Ida Nengsih (50), warga Karawang, Jawa Barat. Ia mendirikan warung di tengah kompleks pemakaman. Kok bisa?
Jumat (17/7) malam, tvberita berkesempatan menjajal sensasi nongkrong di warung yang berlokasi di TPU Karangpamulang, Kampung Sukasari, Kelurahan Karawang Wetan, Kecamatan Karawang Timur itu.
Berdasarkan pantauan, warung ini tak benar-benar berdiri di tengah pemakaman. Warung ini menyatu dengan sebuah bangunan rumah yang terletak di ujung pemukiman penduduk yang berbatasan langsung dengan kompleks pemakaman.
Baca juga: Perkuat Pelayanan Kesehatan, RSUD Jatisari Buka Layanan Poliklinik Ortopedi dan Traumatologi
Alih-alih gelap dan sunyi, area warung ini justru nampak syahdu dengan pendaran lampu warna-warni yang menghiasi pepohonan dan langit-langit warung sederhana tersebut.

Di sejumlah meja-meja kayu yang disediakan, beberapa pengunjung nampak asyik menikmati santap malam. Sebuah keluarga, lengkap dengan anak-anak kecil, bahkan terlihat santai bercengkerama di bawah hiasan lampu tanpa rasa takut sedikitpun.
Ida Nengsih menceritakan bahwa ide awal membuka usaha di lokasi yang tidak biasa ini datang dari sang menantu.
”Inspirasinya dari menantu Ibu sih. Katanya, ‘Kalau mau jualan di sini aja, Mama.’ Di sini banyak anak kecil-kecil, banyak yang main, gitu. Jadi mereka yang modalin ibu buka di sini,” ujar Ida saat ditemui di warungnya.
Meski baru beroperasi sekitar dua minggu, warung yang menyajikan menu nasi uduk, mi ayam, seblak, hingga jajanan anak seperti sosis ini ramai diserbu pembeli.
Pembelinya pun, sambung dia, juga ada yang datang dari luar daerah lantaran tempat warungnya yang tak biasa.
Baca juga: Ratusan Bangli di Cikampek Dibongkar, Bupati Aep Siapkan Kawasan Modern dan Terintegrasi
Adapun aktivitas jualannya ini baru dimulai sejak sore hingga dini hari, sementara pagi hingga siang ia manfaatkan untuk beristirahat dan mengolah bahan makanan untuk dijajakan saat warung dibuka.

”Sampai malem, jam 1 juga ibu masih buka, nasi uduk. Pagi sampai siang mah tutup, mulai sore baru buka lagi,” tambahnya.
Sementara itu, Apuh (53) warga setempat sekaligus pembeli, mengaku tidak merasa takut meski warung ini berdiri di area pemakaman.
Sebaliknya, kata dia, warga justru menganggap warung ini sebagai tempat yang nyaman untuk bersosialisasi dan menikmati hidangan setelah lelah beraktivitas.
Baca juga: Gunakan Gadget untuk Produktivitas, Remaja di Bekasi Dilatih Desain Grafis Lewat Canva
“Alhamdulillah ya warga mah antusias, jadinya ramai,” katanya.
Di samping itu, keberadaan warung ini juga mengundang penasaran para pembeli dari luar kampungnya yang ingin menjajal sensasi nongkrong di warung tersebut.
“Jadi kayak gimana ya, jadi adrenalin katanya mah, kata ibu-ibu sama anak-anak mah,” ujar Apuh. (*)









