
KARAWANG – Ketua Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Karawang, Obar Subarja membeberkan sejarah singkat berdirinya Masjid Agung Syekh Quro Karawang. Pernah jadi tempat berlangsungnya pernikahan Nyi Subang Larang dan Prabu Siliwangi.
Terletak Jl Alun-Alun Barat No. 1, Kelurahan Karawang Kulon, Kecamatan Karawang Barat, Kabupaten Karawang. Masjid ini, dikenal memiliki nilai sejarah kental karena merupakan mesjid tertua di Provinsi Jawa Barat.
“Sejarah mencatat, Masjid Agung Karawang didirikan oleh seorang ulama besar bernama Syeh Hasanuddin, yang lebih dikenal dengan sebutan Syeh Quro,” terang Obar kepada tvberita pada Jum’at, 20 Juni 2025.
Baca juga: Layanan Diperluas, 13 Kecamatan di Karawang Bisa Bikin Akta Kematian dan Kelahiran
Beliau, lanjut Obar, merupakan sosok ulama legendaris yang tidak hanya terkenal karena pengetahuannya yang mendalam, tetapi juga sebagai seorang Hafidh Al-Qur’an dan Qori dengan suara yang merdu.
Pada tahun 1418 M, Syeh Quro membangun sebuah musala yang juga berfungsi sebagai pesantren.
Di pesantren inilah, beberapa waktu kemudian dilangsungkan pernikahan santrinya yang bernama Nyi Subang Larang (dalam versi lain disebut Subang Karancang) dengan Raden Pamanah Rasa, Putra Mahkota Raja Pajajaran, yang kemudian menjadi raja dengan gelar Prabu Siliwangi.
Anggapan ini menjadi kebanggaan bagi umat Islam, khususnya masyarakat Karawang secara umum. Hal ini wajar, mengingat masjid ini merupakan tempat pertama yang digunakan untuk mengagungkan nama Allah dan juga menjadi lokasi pernikahan agung Raja Pajajaran, Prabu Siliwangi.
Obar mengatakan, ada banyak hal yang perlu diungkap, khususnya mengenai bagaimana Syeh Hasanuddin bisa tiba di Karawang pada masa pemerintahan Pajajaran yang umumnya menganut agama Hindu, serta alasan di balik pendirian musala yang menjadi cikal bakal Masjid Agung Karawang.
Baca juga: Gedung Disparbud Karawang: Jejak Sejarah dari Era Kolonial ke Cagar Budaya
“Mengapa pesantren Quro tidak mengalami perkembangan, sementara pesantren di luar Karawang justru berkembang pesat? Ini akan menjadi tantangan bagi para sejarawan untuk menyelidikinya,” kata Obar.
Berdasarkan data yang ada, lanjut Obar, Masjid Agung Karawang telah mengalami sejumlah pemugaran seiring berjalannya waktu.








