KARAWANG – Mini Workshop yang digelar di Puskesmas Karawang, Senin (13/4/2026), menjadi bagian lanjutan dari upaya penanganan kasus kusta di Karawang yang dalam lima tahun terakhir menunjukkan peningkatan.
Kegiatan ini dilakukan sebagai respons terhadap tren naiknya kasus kusta di Karawang, yang kini menempatkan daerah tersebut sebagai salah satu wilayah dengan angka kusta tertinggi di Jawa Barat. Secara global, Indonesia juga masih berada di peringkat tiga dunia dalam jumlah kasus kusta.
Kepala Puskesmas Karawang, Asep Saeful Bahri, menegaskan pentingnya menghilangkan stigma terhadap penderita kusta sebagai langkah awal penanganan.
Baca juga: Program Bebas Kusta Digalakkan di Karawang, Fokus Deteksi Dini dan Hapus Stigma
“Langkah pertama adalah mematahkan stigma melalui kerja sama lintas sektor dan dinas. Penanganan kasus kusta di Karawang tidak bisa dilakukan sendiri,” ujarnya.
Ia menjelaskan, kusta bukan lagi penyakit berbahaya jika pasien telah menjalani pengobatan secara rutin, karena risiko penularan dapat ditekan.
Upaya penanganan kasus kusta di Karawang dilakukan melalui kolaborasi lintas layanan kesehatan, mulai dari puskesmas, klinik, praktik dokter mandiri, hingga rumah sakit. Koordinasi juga diperkuat melalui forum minggon di tingkat kecamatan.
Salah satu program yang didorong adalah Kota Tanpa Kusta (Kotaku), dengan melibatkan lurah dan perangkat wilayah untuk mempercepat penanganan serta menekan kasus kusta di Karawang.
Dokter Wahyudin menjelaskan, gejala awal kusta sering disalahartikan sebagai penyakit kulit biasa, seperti panu.
“Biasanya muncul bercak putih atau merah. Setelah diperiksa, baru diketahui kusta, termasuk adanya penebalan saraf,” katanya.
Ia menyebut, banyak pasien datang dalam kondisi sudah parah karena tidak menyadari gejala awal. Oleh karena itu, edukasi menjadi kunci penting dalam menekan kasus kusta di Karawang.
Koordinator Kusta, Kamil, menyebutkan bahwa kondisi di wilayah Karawang Kota relatif terkendali.
“Dari 2025 ke 2026 terdapat tujuh kasus. Empat sudah sembuh, tiga masih dalam proses pengobatan,” ungkapnya.
Ia menambahkan, pembentukan kader kesehatan di masyarakat terbukti efektif menekan kasus kusta di Karawang, seperti di wilayah Karangpawitan yang berhasil mencapai nol kasus.
Asep menegaskan, target eliminasi kusta pada 2030 salah satunya diukur dari tidak adanya kasus pada anak selama lima tahun berturut-turut.
“Fokus kami adalah penyembuhan tanpa kecacatan, agar pasien tetap produktif,” ujarnya.
Durasi pengobatan kusta bervariasi antara enam hingga 12 bulan, tergantung tingkat keparahan. Secara medis, kusta terbagi menjadi dua jenis, yaitu Pausi Bacillary (kering) dan Multi Bacillary (basah).
Pengobatan dilakukan menggunakan terapi MDT dengan kombinasi antibiotik, seperti Rifampisin, Dapson, dan Klofazimin.
Baca juga: Seleksi S2 Unsika Gelombang II Diikuti 35 Peserta, Magister Manajemen Paling Diminati
“Jika pengobatan dijalani dengan teratur, kusta bisa sembuh,” tegas Wahyudin.
Asep pun mengimbau masyarakat untuk tidak takut atau menyembunyikan penyakit.
“Jika ada gejala, segera periksa ke puskesmas. Pengobatan gratis dan kusta bisa disembuhkan,” pungkasnya. (*)










