TVBERITA.CO.ID – Pemerintah Kabupaten Majalengka diminta lebih bijak dan hati-hati dalam menyikapi rencana pengembangan kawasan industri, khususnya di wilayah utara. Kekhawatiran mencuat karena pembangunan tersebut berpotensi menggerus lahan pertanian produktif, yang selama ini menjadi tulang punggung swasembada pangan di Majalengka.
Sejak kehadiran Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati, kawasan utara Majalengka—terutama Kecamatan Kertajati—menjadi fokus dalam Proyek Strategis Nasional (PSN), termasuk dalam pengembangan kawasan Segitiga Rebana. Namun, pembangunan infrastruktur dan industri yang masif dikhawatirkan memangkas luas lahan pertanian yang masih eksis.
Padahal, Kecamatan Kertajati dikenal sebagai salah satu lumbung padi terbesar di Majalengka. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), sebelum bandara dibangun, Kertajati mencatat produksi padi tertinggi. Pada 2012 tercatat 58.064 kuintal, naik signifikan menjadi 80.106 kuintal pada 2013.
Baca juga: Pemkab Purwakarta Galakkan Gerakan Pembagian Bendera Merah Putih Sambut HUT ke-80 RI
Namun, sejak 2014 ketika pengerjaan bandara dimulai, produksi terus menurun. Tahun 2018 tercatat 72.868 kuintal, lalu turun menjadi 71.039 kuintal pada 2019. Meski sempat naik pada 2020 dan 2021, tren penurunan kembali terjadi pada 2022 (77.659 kuintal) dan 2023 (75.816 kuintal).
Akademisi sekaligus Wakil Rektor I Universitas Majalengka, Jaka Sulaksana, menyoroti isu ini. Ia menegaskan pentingnya perencanaan pembangunan yang matang, termasuk melalui revisi RTRW (Rencana Tata Ruang Wilayah) yang lebih berpihak pada pertanian.










