
Namun kini, dirinya hanya mengandalkan pendapatan dari pembeli tetap atau pelanggan saja.
“Sekarang mah penjualan di pasar mati karena pada beralih ke Tiktok. Saya gak ngerti pake tiktok, HP juga enggak bisa, jadi tetep dagang begini,” tutur Midah.
“Kadang nunggu 3 sampai 4 hari baru laris sepotong dua potong baju. Harapannya pengen rame lagi seperti dulu,” tambahnya.
Terancam gulung tikar
Pedagang lainnya, Ratna Wilis, 47 tahun juga mengalami kondisi serupa. Dulunya ia yang biasa memperoleh pendapatan Rp 5 sampai Rp 7 juta perhari dalam berjualan sepatu.
Baca juga: Plaza Cikampek Nihil Sumbang PAD, Pemkab Karawang Mau Cari Investor Baru
Sekarang paling untung, dirinya mendapatkan omzet Rp 1.5 juta, itupun hanya ketika ada momen tertentu seperti hari-hari besar.








