
KARAWANG – Sebagai cagar budaya tingkat nasional, kawasan percandian di Desa Segaran, Kecamatan Batujaya, Karawang, khususnya Candi Blandongan, kondisinya cukup memprihatinkan.
Hal ini diungkapkan oleh Mahmud Syarifuddin, selaku juru pelihara (Jupel) Candi Blandongan di kawasan tersebut.
Dia menuturkan, Candi Blandongan adalah salah satu objek wisata di kawasan percandian Batujaya yang tingkat kunjungannya cukup ramai. Bahkan tak jarang, jumlah pengunjung mencapai ribuan hanya dalam waktu 1 bulan saja.
Baca juga: Penanganan Kasus Persekusi Kiai NU Lamban, Warga Nahdliyin Demo di Mapolres Karawang
Sayangnya, kata dia, beberapa fasilitas di candi yang berstatus cagar budaya nasional ini terbilang tidak cukup memadai.
“Blandongan itu pengunjung pernah sampai tiga ribu orang sebulan, karena sering digunakan untuk ibadah juga. Terus sering ada pengunjung luar negeri seperti dari India, Jepang, Amerika. Tapi beberapa fasilitas kurang memadai,” ungkap Mahmud kepada tvberita.co.id pada Rabu, 14 Agustus 2024.
Ia menyebutkan, beberapa fasilitas yang menurutnya perlu diperbarui antara lain; rusaknya lampu penerangan, saung informasi gubuk yang kurang layak, rusaknya mesin pemotong rumput, kurangnya tong sampah dan paling utama adalah keberadaan MCK yang alakadarnya.
Baca juga: Kata Ahli Cagar Budaya soal Bebatuan Bersejarah di Sanggabuana Karawang
Selain itu, kata dia, candi yang kunjungannya sudah berskala internasional ini, malah belum mempunyai sebuah papan informasi.
“Aspirasi banyak, kayak soal kebersihan aja, kita dituntut untuk sebersih mungkin tapi ketersediaan tongnya kurang. Lalu WC juga disini seadanya, lampu penerangan dan pemotong rumput juga pada rusak, terus gak ada papan informasi. Kita meminta pemerintah untuk lebih memperhatikan cagar budaya ini, karena pengunjung yang dateng sudah sampai ada yang dari luar negeri,” harapnya.
Baca juga: Mengenal Candi Serut di Karawang: Sejarah, Lokasi hingga Mitos di Baliknya
Sejarah Candi Blandongan
Mahmud menjelaskan, jika ditinjau historisnya, Candi Blandongan ini awal ditemukan pada tahun 1984 oleh peneliti dari Universitas Indonesia (UI).








