
“Saya sangat menyayangkan jika Karawang ini sudah punya kurikulum mulok pengelolaan sampah tapi justru tidak digunakan,” sesalnya.
Jika saja seluruh lembaga pendidikan mengajarkan anak-anak untuk bisa mengelola sampah ini, maka akan mengurangi beban pemerintah dalam penanganan sampah di Indonesia.
Sebab dalam kurikulum ini, peserta didik diajarkan dari mulai pengenalan sampah, pengelolaan sampah bahkan sampai kepada aktifitas yang bisa dilakukan untuk mengurangi timbunan sampah.
Baca juga: Ingatkan Perusahaan, DLH Karawang Minta Penyaluran CSR Jangan Sebatas Seremoni
“Yang kami lakukan di Lembaga bukan hanya mengajarkan tetapi sudah pada pembiasaan,” katanya.
Saat ini, Siti mengaku sedang gencar membentuk bank sampah di sekolah-sekolah Paud/TK.
“Alhamdulillah sudah ada 10 lembaga yang mendirikan bank sampah sekolah di 3 kecamatan di Karawang. Melalui bank sampah ini belajar cara pengelolaan sampah akan lebih mudah dilakukan, karena anak dan orangtua terlibat langsung dalam proses pemilahan sampah dari sumbernya (rumah),” jelasnya.
Siti menegaskan, banyak cara untuk mengajarkan pengelolaan sampah, dan semua lembaga bebas berkreasi serta berinovasi. “Karena yang terpenting itu adalah bagaimana Lembaga bisa membentuk karakter baik pada anak. Karakter peduli lingkungan terutama peduli pada sampah,” tukasnya. (*)











