CIANJUR, TVBERITA.CO.ID- Mantan Napi Teroris, Ustaz Khairul Gazali,memberikan imun kepada generasi muda khususnya di wilayah pesantren agar kebal terhadap faham radikalisme dan terorisme.
Ia datang bersama Tim dari Mabes Polri yang bersilaturahmi ke Ponpes Darussalamah AL- Mubarok, Desa Bangbayang, Kecamatan Gekbrong, Cianjur, Minggu (26/8).
Kedatangan tim juga membawa pesan serta arahan menolak faham radikalisme dan terorisme juga mengikis intoleransi penyebaran berita hoax demi menjaga keutuhan NKRI untuk membangun sinergitas dalam rangka mendukung terselenggaranya Pileg dan Pilpres 2019 yang aman dan damai.
Kunjungan silaturahmi dipimpin oleh AKBP Syuhaimi SH dan didampingi oleh Kapolsek Warungkondang Kompol Maksum dan Sekjen MUI Kabupaten Cianjur Ahmad Yani.
“Paham jihad yang saya jalani dulu tak sesuai dengan ajaran Nabi Muhammad SAW, makanya saya datang ke sini memberikan imun agar adik adik yang masih muda ini kebal dari ajaran sesat faham radikalisme,” ujar Ustaz Khairul.
Pada kesempatan itu ia membuka diskusi dengan para santri. Tim dari Mabes Polri memberikan waktu agar santri memahami betul pesan yang ingin disampaikan.
“Perlu saya jelaskan, saya sudah melakukan beberapa kegiatan, di antaranya mendatangi Pesantren Al Mukmin Ngruki, kami juga datangi tempat ini sebagai bentuk kepedulian kami kepada dunia pendidikan, kami tak ingin berkembang faham yang selama ini banyak yang menyesatkan para santri,” kata AKBP Syuhaimi.
Ia mengatakan alasan mendatangkan mantan pelaku teror untuk memberikan bukti bahwa terorisme itu salah dan merugikan.
“Ustaz Khaerul Gazali mantan napi teror yang kini berubah total, ia kini mendirikan pondok pesantren dan memberikan terobosan positif, saya perlu mendatangkan beliau agar santri lain tak terjerumus ke dalam hal salah,” ujarnya.
Pondok pesantren Darussalamah Al-Mubarok didirikan oleh Ustad D.I. Santoso Abi. Berdiri di atas tanah seluas kurang lebih 22.000 meter persegi milik Ibu Hajah Fatimah, dimana 8.000 meter persegi di antaranya telah diwakafkan oleh Arif salah seorang putra ahli waris Ibu Hajah Fatimah, untuk didirikan pesantren.
Pada awal berdirinya pada tahun 2013, Santri di Pondok Pesantren Darussalamah Al-Mubarok hanya berjumlah 9 orang, yang hampir seluruhnya merupakan anak yatim /dhuafa dan tidak lulus/diterima di sekolah-sekolah (SMP) umum, karena memang pada awal dibuka pesantren tersebut untuk Yatim dan Dhuafa (gratis).
Setelah itu ada subsidi silang dari santri-santri pada generasi berikutnya. Kesembilan Santri tersebut belajar dalam satu kelas.
Saat ini Santri Pondok Pesantren Darussalamah Al-Mubarok berjumlah kurang lebih 160 orang, dimana Santri yang berasal dari wilayah Cianjur (lokal) hanya sekitar 10 orang saja, selebihnya berasal dari beberapa daerah dari berbagai elemen masyarakat seperti Lampung, Palembang, Batam, Padang, Jabodetabek, Banten, dan lain-lain.
Metode pembelajaran di Pondok Pesantren Darussalamah Al-Mubarok mengikuti dan mencontoh dari Pondok Pesantren Nurussalam, Ciamis.(kb)(sumber:tribunjabar.com)












