Beranda Headline Kisah Dedi Mulyadi, Pejuang Ilmu yang Terbiasa ‘Nyeker’ ke Sekolah, Kini Jadi...

Kisah Dedi Mulyadi, Pejuang Ilmu yang Terbiasa ‘Nyeker’ ke Sekolah, Kini Jadi Guru Besar

Rektor UBP Karawang, Prof. Dedi Mulyadi, SE., MM,

KARAWANG– Dedi Mulyadi, putra asli Karawang yang kini telah berhasil meraih Guru Besar Ilmu Manajemen. Jelas perjuangannya tidak semudah membalikkan telapak tangan.

Dedi kecil, semenjak sekolah SD tidak pernah mengenakan sepatu, bahkan untuk mengenakan sendal saja tidak pernah, hanya telanjang kaki.

“Dulu saya waktu Sekolah Dasar (SD) itu jalan kaki lebih dari 5 km melewati jalan perkampungan, lokasinya di kopel Klari, tepatnya di daerah pasir panjang kalau sekarang mah sudah banyak perumahan disana,” kata Prof. Dedi Mulyadi, SE., MM, di Aula UBP Karawang, Rabu (30/3/2022).

Baca juga: Rakernas HMMI ke-IX: Rektor UBP Karawang Ingatkan Tantangan Era Industri 5.0

Prof Dedi juga mengaku semenjak ia mengeyam pendidikan di SD, ia tidak pernah mengenakan sepatu, atau sandal, alias nyeker.

“Saya dari kelas 1 sampai kelas 6 tidak pernah mengenakan sepatu, saya masih ingat betul sekali- kalinya saya ke sekolah mengenakan alas kaki itu juga bukan sepatu tapi pakai sendal yang sudah jelek, rusak saat mengambil ijazah,” ujar Prof Dedi sambil terkekeh.

Rektor UBP ini juga mengaku ia sering di-bully oleh teman-temannya saat SD karena ia ke sekolah nyeker (tanpa alas kaki-red) sekalipun mengenakan alas kaki, mengenakan sandal butut saat mengambil ijazah.

“Habis-habisan saya di-bully sama teman-teman di sekolah, tapi alhamdulillah itu semua tidak membuat saya sakit hati, tidak cengeng dan saya terus bergerak,” ungkapnya.

Lahir bukan dari kalangan orang kaya, tentu menjadi hambatan bagi orang-orang untuk bersekolah, namun tidak bagi Prof Dedi, meski hidup dalam keadaan serba kekurangan ia memiliki orang tua yang selalu mendukung keinginan anaknya untuk bersekolah ke SMP.

Baca juga: Fokus Tingkatkan SDM, UBP Karawang Jalin Kerjasama dengan UPI Bandung

“Saya masuk SMP berkat ibu saya, dan saya harus menjual kambing, itu juga kambing dari uang pemberian tetangga, kerabat saat saya di khitan, dan setiap hari saya menggembala kambing dan alhamdulillah saya bisa masuk SMP kemudian masuk SMEA,” kata ayah dari tiga anak ini.

Prof Dedi mengenyam pendidikan S1 di Fakultas Ekonomi Universitas Singaperbangsa Karawang, tidak seperti mahasiswa lain yang membayar kuliah dengan gampang, tetapi ia selalu menunggak bayar kuliah.

“Dekan nya saja udah banyak maklum, karena saya selalu nunggak-nunggak dan nunggak, karena saya tidak punya uang, saya terlambat menyelesaikan S1 nya, saya kuliah S1 sampai 7 tahun ya itu karena tidak punya uang buat ikut sidang, akhirnya ayah saya kesana- kemari mencari pinjaman dan akhirnya ada seorang dermawan yang memberikan motornya untuk di jual agar saya bisa ikut sidang dan jadi sarjana,” jelas Prof Dedi dengan mata berkaca-kaca.

Baca juga: Lagi, UBP Karawang Sabet Juara 1 Nasional dalam Lomba Software Development

Prof Dedi semenjak kuliah S1 sudah dipercaya menjadi asisten dosen. Namun selepas mendapatkan gelar sarjana, Prof Dedi bekerja di perusahaan, dan pernah menjabat sebagai manajer.

Meski gaji sebagai menajer terbilang besar, namun ia merasa seperti hampa, ia ingat pesan agama bahwa pahala yang sampai kepada kita sampai mati yaitu anak Soleh, punya ilmu yang bermanfaat, dan sedekah.

“Mohon maaf ini bukan sombong, saya merasa memiliki pengetahuan walau sedikit pengen saya amalkan dan menjadi ladang pahala buat saya, maka kemudian saya memutuskan untuk menjadi akademisi, dan alhamdulillah bisa sampai saat ini, mendapatkan gelar ini tidak mudah, penuh perjuangan, jadi untuk jadi profesor tidak perlu punya uang, untuk jadi profesor harus penuh perjuangan,” pungkasnya. (kii)