
KARAWANG – Sistem rekrutmen berbasis kecerdasan buatan mulai diperkenalkan sebagai solusi untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) sekaligus meminimalkan praktik subjektivitas dalam proses seleksi tenaga kerja.
Tim Hilirisasi Prioritas Skim Sinergi memperkenalkan teknologi Gap Analyzer AI dalam kegiatan Halal Bihalal dan Bimbingan Teknis (Bimtek) Sistem OSS berdasarkan PP Nomor 28 Tahun 2005 yang digelar di Swiss-Belhotel Karawang, Kamis (2/4/2026).
Wakil Ketua tim, Prof. Retno Purwani Setyaningrum, menjelaskan bahwa Gap Analyzer AI hadir untuk membantu perusahaan menyaring kandidat secara objektif sekaligus memetakan kompetensi pencari kerja.
Baca juga: Rekrutmen Berbasis AI Segera Diterapkan di KIIC, HR Diminta Adaptif
“Penggunaan AI penting melihat rasio pelamar dan kebutuhan industri di Indonesia yang cukup tinggi,” ujarnya.
Ia menjelaskan, sistem Gap Analyzer AI dan Career Hub mampu menyaring lamaran dalam jumlah besar, kemudian mengerucutkannya menjadi kandidat yang sesuai dengan kebutuhan perusahaan.
Dalam prosesnya, Gap Analyzer AI akan menyeleksi dan menganalisis pelamar, termasuk peserta magang. Dari ribuan pelamar, sistem dapat menampilkan hingga 50 kandidat terbaik untuk diproses lebih lanjut.
Tak hanya itu, Gap Analyzer AI juga memberikan manfaat bagi pencari kerja. Kandidat akan memperoleh umpan balik terkait kekurangan kompetensi yang dimiliki.
“Misalnya skor TOEFL 500, sementara perusahaan meminta 525. Nanti sistem akan merekomendasikan pelatihan berbasis AI,” jelas Retno.
Rekomendasi tersebut memungkinkan kandidat meningkatkan kemampuan sebelum kembali mengikuti proses rekrutmen.
Sementara itu, Ketua Gap Analyzer AI, Prof. Muafi dari Universitas Islam Indonesia menilai penggunaan Gap Analyzer AI mampu meningkatkan kualitas SDM di berbagai sektor industri.
“Sistem ini dapat mendeteksi kebutuhan pelatihan, menentukan job grade, serta memetakan posisi yang sesuai bagi kandidat,” ujarnya.
Menurutnya, Gap Analyzer AI membantu perusahaan melihat kesenjangan antara kompetensi pelamar dengan kebutuhan industri, sehingga pengembangan SDM menjadi lebih terarah.
Selain itu, sistem ini juga mengintegrasikan pengembangan hard skill dan soft skill. Kandidat dapat mengetahui potensi karier, kebutuhan pelatihan, hingga kisaran gaji sesuai kompetensi.
Rifky Fajar Utama, HR Channel, menambahkan bahwa teknologi ini dapat membantu mahasiswa dan pencari kerja dalam menentukan arah karier sejak dini.
Baca juga: Era AI Masuk Dunia Kerja, HR di Karawang Siap Terapkan Rekrutmen Digital
“Dengan sistem ini, potensi dan kecocokan posisi kerja bisa terdeteksi lebih awal,” katanya.
Iwan Setiadi, Konsultan Teknik, menyebut tingkat akurasi Gap Analyzer AI mencapai 85 persen. Hal ini dinilai mampu membantu HR menjaga konsistensi dalam proses seleksi dan wawancara.
Program ini telah digunakan oleh sejumlah perusahaan dan diharapkan mampu menekan angka pengangguran melalui peningkatan kualitas tenaga kerja berbasis teknologi. (*)








