
Sementara itu, Kepala Dinas Koperasi dan UKM Kabupaten Karawang sekaligus Ketua Harian Dekranasda Kabupaten Karawang, Dindin Rachmadhy, mengatakan salah satu pekerjaan rumah dalam pengembangan batik Karawang adalah memperkenalkan identitas batik daerah kepada masyarakat secara lebih luas.
Baca juga: Green House Batik Kreasi Tuli di Karawang Jadi Ruang Pemberdayaan Teman Tuli
Menurut Dindin, momentum Hari Batik Nasional menjadi kesempatan untuk semakin mengenalkan bahwa Karawang memiliki kekayaan motif dan produk batik sendiri.
“Karawang itu punya batik. Membumikan bahwa Karawang itu punya batik dulu,” katanya.
Dindin menyebut batik Karawang memiliki beragam motif yang mengambil inspirasi dari kekayaan alam dan budaya daerah. Di antaranya padi, turubuk, Candi Jiwa, eceng gondok, sungai, gunung, jaipongan hingga unsur pewayangan.
Ia mengatakan saat ini terdapat sedikitnya 12 motif batik yang telah berkembang di Karawang. Jumlah tersebut masih terbuka untuk terus bertambah melalui inovasi para pelaku dan komunitas batik.
Menurutnya, pengembangan batik juga tidak terlepas dari keterlibatan berbagai sanggar dan komunitas, termasuk kelompok pembatik disabilitas.
Baca juga: Mahasiswa Diduga Jadi Korban Penganiayaan, Satgas PPKPT Investigasi
“Kita tetap melaksanakan kombinasi dengan sanggar-sanggar ini. Jadi tinggal kita coba mana yang menjadi main, mana yang menjadi pendukung,” ujarnya.
Selain workshop dan fashion show, Batik Inklusif 2026 juga menghadirkan Talk Show Series for Global Vision bersama Akeyla Naraya, talk show bersama Ketua Harian Dekranasda Kabupaten Karawang, serta talk show bersama Anggota DPRD Provinsi Jawa Barat Pipik Taufik Ismail.
Kegiatan yang digelar dalam rangka memperingati Hari Batik Nasional tersebut mendapat dukungan dari berbagai pihak sebagai bagian dari upaya memperkuat ekosistem batik Karawang sekaligus membuka ruang yang lebih inklusif bagi penyandang disabilitas untuk berkarya.
Melalui Batik Inklusif 2026, peringatan Hari Batik Nasional di Karawang tidak hanya menjadi momentum pelestarian warisan budaya, tetapi juga mendorong batik menjadi ruang kreativitas yang melibatkan generasi muda dan penyandang disabilitas serta memiliki peluang untuk diperkenalkan ke panggung global. (*)








