Beranda Headline Ironi SDN di Karawang: Puluhan Tahun Berdiri di Lahan Wakaf, Usulan Bantuan...

Ironi SDN di Karawang: Puluhan Tahun Berdiri di Lahan Wakaf, Usulan Bantuan Kerap Tertolak

Lahan wakaf sdn karawang
SDN Adiarsa Timur 1, Karawang menghadapi persoalan klasik yang belum juga terselesaikan selama puluhan tahun, yaitu status lahan wakaf yang membuat sekolah kesulitan berkembang.

KARAWANG – SDN Adiarsa Timur 1, Karawang menghadapi persoalan klasik yang belum juga terselesaikan selama puluhan tahun, yaitu status lahan wakaf yang membuat sekolah kesulitan berkembang dan mendapatkan bantuan pemerintah.

Sekolah yang telah berdiri sejak sekitar tahun 1984 ini hingga kini masih menempati lahan wakaf tanpa kepemilikan resmi oleh pemerintah daerah. Kondisi tersebut berdampak langsung pada terbatasnya pembangunan dan minimnya bantuan, terutama untuk perbaikan fasilitas.

Kepala SDN Adiarsa Timur 1 saat ini, Aas, mengungkapkan bahwa dirinya baru menjabat dan mulai memahami kompleksitas persoalan yang ada. Ia menyebut, isu relokasi sebenarnya sudah lama diperjuangkan oleh para kepala sekolah sebelumnya.

Baca juga: Lagi, Aset SDN di Karawang Dicuri, 7 Chromebook dan 2 Infokus Raib

“Dari dulu sudah disampaikan, bahkan saat kegiatan pelayanan terpadu kecamatan (Paten), sempat muncul wacana relokasi. Tapi sampai sekarang belum ada tindak lanjut yang jelas,” ujarnya kepada tvberita pada Selasa, (5/5).

Lahan wakaf sdn karawang
SDN Adiarsa Timur 1, Karawang menghadapi persoalan klasik yang belum juga terselesaikan selama puluhan tahun, yaitu status lahan wakaf yang membuat sekolah kesulitan berkembang.

Hal senada disampaikan mantan kepala sekolah, Ariefa Nuzliatin. Ia mengaku telah berupaya mengkomunikasikan persoalan ini ke berbagai pihak, termasuk Dinas Pendidikan dan pemerintah daerah. Bahkan sempat ada respons dari bupati yang menyatakan rencana relokasi, namun hingga kini belum terealisasi.

“Kami sudah beberapa kali menyampaikan, bahkan sempat diarahkan ke beberapa lokasi alternatif. Tapi ujungnya belum ada kejelasan. Harapannya tentu ada tindak lanjut nyata,” katanya.

Kondisi fisik sekolah pun jauh dari kata ideal. Dengan luas lahan sekitar 845 meter persegi dan jumlah siswa mencapai hampir 400 anak, sekolah ini tidak memenuhi standar ruang belajar yang layak. Keterbatasan ruang membuat sebagian kegiatan belajar harus memanfaatkan ruang lain di luar gedung utama.

Fasilitas pendukung juga minim. Tidak adanya lapangan memadai membuat kegiatan olahraga dan upacara harus dilakukan di tempat terbatas atau menumpang di lokasi lain. Selain itu, banyak perabotan kelas seperti kursi dalam kondisi rusak.

Ironisnya, status lahan yang bukan milik pemerintah juga menjadi penghambat utama dalam pengajuan bantuan. Proposal perbaikan seringkali tidak dapat disetujui karena ketiadaan sertifikat kepemilikan resmi.

Baca juga: Cerita Napi di Karawang Belajar Meracik Kopi dari Balik Jeruji: Dulu Dihina, Kini Ramai Diminati

“Bukan tidak berusaha, tapi memang terbentur administrasi. Bahkan untuk rehab saja tidak bisa dilakukan karena izin dari pihak yayasan tidak ada,” sambung Aas.

“Ruang guru pun sangat sempit, kamar mandi hanya 2 dan itu digunakan berbarengan guru dan murid, jumlah muridnya ada 391, jadi ini rasionya tidak memungkinkan,” tambahnya.

Di tengah keterbatasan tersebut, semangat belajar siswa dan dedikasi para guru tetap menyala. Berbagai kegiatan tetap berjalan, termasuk program Pramuka yang aktif hingga persiapan lomba tingkat kecamatan.

Lahan wakaf sdn karawang
SDN Adiarsa Timur 1, Karawang menghadapi persoalan klasik yang belum juga terselesaikan selama puluhan tahun, yaitu status lahan wakaf yang membuat sekolah kesulitan berkembang.

Tak hanya itu, prestasi pun tetap diraih. Salah satu siswa berhasil meraih juara pertama dalam lomba pencak silat dan akan melaju ke tingkat kabupaten.

“Walaupun fasilitas terbatas, anak-anak tetap semangat. Guru-guru juga punya komitmen tinggi untuk memberikan yang terbaik,” kata Aas.

Baca juga: NOEND Rilis Single Berjudul ‘Angin & Cinta’, Ajak Pendengar Berdamai dengan Ketidakpastian

Pihak sekolah berharap pemerintah daerah segera memberikan kepastian terkait relokasi. Pasalnya, kondisi saat ini dinilai tidak hanya menghambat proses belajar, tetapi juga berpotensi membahayakan keselamatan siswa jika terus dibiarkan.

“Harapannya sederhana, ada solusi nyata. Kami ingin relokasi itu bisa terwujud, karena yang dipertaruhkan masa depan anak-anak,” tutup Aas.

Selama lebih dari empat dekade, SDN Adiarsa Timur 1 terus bertahan dalam keterbatasan. Hingga saat ini mereka masih memiliki harapan yang sama, yakni memiliki tempat belajar yang layak dan aman bagi generasi penerus. (*)