
KARAWANG – Inovasi layanan kesehatan kembali dihadirkan Primaya Hospital Karawang melalui pemasangan tangan Protesis Fungsional bagi dua pasien korban kecelakaan kerja. Program ini terlaksana berkat kolaborasi dengan BPJS Ketenagakerjaan Karawang dan dukungan teknologi dari PT Orthocare Indonesia.
Proses uji coba dan penyerahan dua tangan berbasis teknologi AI kepada kedua pasien tersebut berlangsung di ruang auditorium Primaya Hospital Karawang, Selasa (24/2).
Direktur Primaya Hospital Karawang, Direktur RS Primaya Karawang, dr. Winardi Fadilah, MMRS, AIFO-K, menjelaskan, kedua pasien sebelumnya mengalami trauma berat pada tangan hingga tidak dapat diselamatkan dan harus menjalani amputasi.
Baca juga: Dinsos Karawang Tangani Pengemis Diduga Pura-Pura Pincang, Tawarkan Pelatihan Kerja
“Pasien datang dengan kondisi patah tulang yang parah dan tidak bisa diselamatkan, sehingga dilakukan amputasi. Karena usia mereka masih produktif, kami berupaya mengembalikan fungsi tangan dengan pemasangan protesis fungsional,” ujar Winardi dalam keterangannya, dikutip Jumat (27/2).
Menurutnya, teknologi ini menjadi solusi lebih lanjut dibandingkan tangan palsu konvensional yang hanya bersifat estetika.
“Kalau biasanya tangan palsu hanya untuk tampilan, kali ini kita gunakan teknologi sehingga fungsinya bisa kembali,” tambahnya.
Baca juga: Primaya Hospital Karawang Operasikan PLTS Atap, Kurangi Emisi Karbon hingga 215 Ton per Tahun
Penanganan kedua pasien tersebut telah berlangsung sekitar enam bulan. Adapun kedua pasien tersebut mendapatkan tindakan ini berdasarkan asesmen empat dokter spesialis Primaya Hospital.

Dalam prosesnya, pihak rumah sakit juga berkoordinasi dengan BPJS Ketenagakerjaan terkait pembiayaan alat dan perawatan. Hasilnya, seluruh biaya ditanggung melalui program Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK).
“Kecelakaan kerja tentunya bukan sesuatu yang diharapkan oleh setiap pekerja, namun negara hadir melalui BPJS ketenagakerjaan untuk para pekerja yang mengalami kecelakaan kerja,” jelasnya.
Winardi mengulas, Primaya Hospital Karawang memiliki Layanan Unggulan Trauma & Burn Center yang dilengkapi oleh Program return to work dan layanan Spesialis Okupasi, Pemasangan orthosis dan Protesa. Sehingga pelayanan lebih komperehensif.
“Hal ini juga sesuai dengan value dari PHKA yaitu Here For You. Kami siap dan ada untuk melayani masyarakat Karawang dan sekitarnya,” paparnya.
Selain itu, Program Return To Work (RTW) yang sukses dijalankan oleh Primaya Hospital Karawang, menurutnya sebagai bentuk Komitmen Primaya dalam Value Here For You, di mana Wilayah Karawang sebagai industri.
“Fokus kami bukan hanya menyembuhkan pasien Kecelakaan Kerja, tapi juga fungsi dan kualitas hidup yang bisa dimaksimalkan. Ini suatu perjalanan baru bagi Pasien untuk kembali bekerja semaksimal mungkin,” seru Winardi.
Baca juga: Heboh Menu MBG di Karawang Dinilai Tak Layak, Dua Susu dan Satu Pisang untuk Jatah 3 Hari
Kepala BPJS Ketenagakerjaan Karawang, Cep Nandi Yunandar menegaskan, program JKK memberikan perlindungan menyeluruh bagi pekerja yang mengalami kecelakaan kerja.
“Ini salah satu manfaat JKK. Mulai dari perawatan, pengobatan, hingga alat bantu seperti tangan palsu semuanya ditanggung sampai pasien benar-benar pulih dan bisa kembali beraktivitas,” jelasnya.
Ia juga menyebutkan, layanan ini merupakan yang pertama di Karawang untuk pemasangan tangan protesis fungsional bagi peserta BPJS Ketenagakerjaan secara gratis alias tanpa biaya apapun.
“Tidak ada (biaya tambahan). Kita tangani sampai dengan sembuh, sampai dia beraktifitas benar-benar pulih. Karena setiap tubuh kita itu ada penggantian tangan, kaki, kalau misalnya ada risiko cacat fungsi selama dia aktif menjadi peserta BPJS Ketenagakerjaan,” paparnya.
Sementara itu, Direktur Business Development PT Orthocare Indonesia, Fidyanto Angger Waspodo menjelaskan bahwa prostesis yang diberikan telah melalui proses asesmen menyeluruh.
Baca juga: Kapolda Jabar Pantau Langsung Gerakan Pangan Murah di Karawang saat Ramadan
“Alat disesuaikan dengan kebutuhan pasien, baik di lingkungan kerja maupun aktivitas sehari-hari. Sistemnya menggunakan sensor otot yang dilatih sehingga tangan dapat bergerak secara otomatis,” ungkapnya.
Ia menambahkan, teknologi ini memungkinkan gerakan lebih natural dibandingkan prostesis mekanik, serta memiliki daya tahan hingga 5–10 tahun dengan perawatan yang baik.
“Pasien juga perlu rutin kontrol, seperti halnya perawatan kendaraan, agar fungsi alat tetap optimal,” katanya.
Melalui inovasi ini, diharapkan para penyintas kecelakaan kerja dapat kembali menjalani aktivitas secara mandiri dan produktif. (*)








