
KARAWANG – Kondisi NA (2,5), balita korban kekerasan yang dilakukan oleh pacar ibunya, hingga kini masih memprihatinkan. Setelah menjalani perawatan selama satu minggu di rumah sakit, NA kini berada di rumah dengan kondisi fisik dan psikis yang belum pulih.
Ibu korban, IP (20), menuturkan bahwa kondisi mata anaknya masih mengalami gangguan serius. Hingga saat ini, cairan lengket berbau amis masih keluar dari mata, sementara secara medis NA telah dinyatakan tidak dapat melihat secara penuh.
“Matanya dari Kamis sampai sekarang masih mengeluarkan cairan lengket dan bau amis. Bola matanya menyusut ke dalam, korneanya jadi putih. Di rumah sakit sudah dibilang tidak bisa melihat 100 persen,” ujar IP saat dikunjungi tvberita pada Rabu, (18/3).
Baca juga: Kejinya Pacar Ibu Aniaya Balita 2,5 Tahun di Karawang, Pelaku Sempat Ngotot Tak Bersalah
Meski demikian, keluarga masih menyimpan harapan. NA direncanakan akan dirujuk ke RS Cicendo Bandung untuk mendapatkan penanganan lanjutan dengan fasilitas yang lebih lengkap.
“Katanya masih ada kemungkinan bisa melihat walaupun sedikit. Di Bandung alatnya lebih canggih,” tambahnya.
Namun, rencana rujukan tersebut terkendala biaya dan transportasi. IP mengaku tidak memiliki penghasilan tetap, terlebih sejak kejadian menimpa anaknya ia berhenti berjualan gorengan keliling demi fokus merawat NA.
“Untuk saat ini kendalanya di biaya sama transportasi. Saya juga tidak bekerja. Sehari-hari jualan gorengan keliling, tapi sekarang berhenti karena fokus ke anak,” ungkapnya.
Baca juga: Saat Bupati Karawang Rogoh Kocek Pribadi, Bahagiakan 700 Anak Yatim dan Jompo di Kampung Halaman
Selain gangguan fisik, kondisi psikologis NA juga menjadi perhatian. Sejak kejadian, NA kerap mengalami trauma, sering terbangun di malam hari, menangis, dan menunjukkan perubahan perilaku.
“Sekarang sering tantrum, tengah malam bangun. Tidurnya gelisah. Kalau dengar kata ‘om’ langsung ketakutan, harus dipanggil ‘abang’. Sama kakaknya juga jadi galak,” kata IP.
Nafsu makan NA sempat menurun drastis di awal kejadian dan hanya mengonsumsi susu. Namun setelah beberapa hari, ia mulai mau makan meski dalam porsi kecil. Meski begitu, keceriaan NA belum kembali seperti semula.
“Dulu makan bisa lima kali sehari, sekarang sudah tidak ceria lagi walaupun diajak ke playground,” tuturnya.
Pendampingan DP3A Minim, Keluarga Diminta Urus Psikolog Mandiri
Di tengah kondisi tersebut, IP juga menyoroti minimnya pendampingan langsung dari pemerintah daerah. Ia mengaku, setelah keluar dari rumah sakit, belum ada lagi kunjungan dari pihak pemerintah.








