
TVBERITA.CO.ID – Kisah haru seorang penjahit bola asal Sukabumi, Sandi (40), viral di media sosial. Dalam video yang diunggah salah satu lembaga filantropi pada 21 Maret lalu, terlihat Sandi menjahit bola sintetis dengan jarinya yang cekatan, sementara ibunya, Atikah (60), terbaring lemah di sampingnya.
Dalam video itu, Sandi menunduk, mengecup kening ibunya, lalu berucap lirih bahwa ia sudah empat hari tak makan karena tidak mampu membeli beras.
Kisah tersebut terjadi saat hujan deras membuat Sandi tak bisa mengantarkan bola, sementara bos yang biasa memesan sedang berduka. Tidak ada kerja berarti tidak ada uang, dan tanpa uang ia tak bisa membeli beras. “Kalau nggak kerja, ya nggak makan,” ujarnya.
Baca juga: PJT II Gelar Operasi Katarak Gratis untuk Puluhan Warga Purwakarta
Sandi mengaku lebih memilih lapar daripada melihat ibunya kelaparan. “Saya nggak makan nggak apa-apa, tapi emak nggak makan saya nangis. Emak sakit lambung dan jantung, jangan sampai lapar,” tuturnya.
Sejak 2003, Sandi menggantungkan hidup pada keterampilan menjahit bola yang ia pelajari dari tetangganya. Satu bola ia jahit selama empat jam dan dijual ke pengepul seharga Rp7.000, atau langsung ke pembeli Rp70.000–Rp100.000. Keuntungan bersihnya hanya Rp10.000–Rp30.000, sering kali habis untuk membeli beras seharga Rp12.000 per liter.
“Kadang sehari bisa jahit dua bola, kadang nggak ada sama sekali. Kalau nggak ada orderan, ya di rumah saja,” katanya.
Untuk mencari pembeli, Sandi pernah berjalan kaki 5–10 kilometer menuju Stasiun Karangtengah, membawa dua bola dalam kantong plastik. Pulang pergi tanpa kendaraan, terkadang ia ditolong orang baik, namun sering kali pulang dengan tangan hampa.
Atikah, ibunya, mengakui keteguhan hati Sandi. “Walau keterbatasan fisik, dia tetap berusaha. Dia yang menyambung hidup saya. Saya selalu berdoa anak saya diberikan kesehatan,” ujarnya.
Baca juga: Kades Pasirjengkol Apresiasi Mahasiswa KKN UBP Karawang, Bantu UMKM Buatkan NIB
Kini, meski ibunya sudah membaik, Sandi tetap khawatir penghasilannya terhenti. Harapannya sederhana: modal usaha agar ia bisa terus menjahit bola atau berjualan.
“Yang penting emak sehat. Itu saja sudah cukup,” pungkasnya. (*)








