KARAWANG – Setiap siang, Sukinah (47) memacu sepeda motornya membelah jalanan Desa Sukajaya, Karawang. Hanya butuh waktu lima menit bagi putri sulung Haji Tohar (70) ini untuk tiba di sebuah lahan yang menjadi penampungan limbah cangkang rajungan.
Sejak awal dekade 1990, Haji Tohar lupa tahun persisnya, sebidang tanah itu dibiarkan menjadi pusat pengumpulan cangkang rajungan. Haji Tohar mendapatkan cangkang rajungan itu secara gratis dari sentra-sentra pengolah daging rajungan di Desa Sukajaya.
Di bawah teriknya matahari jam 12 siang, berbekal sekop di kedua tangan, Sukinah mengaduk tumpukan cangkang rajungan yang telah menggunung setinggi lutut orang dewasa. Setiap ayunan sekop melepaskan aroma tak ramah ke udara, kombinasi bau amis laut yang pekat bercampur sengatan amonia yang pesing.
Baca juga: Marak Penipuan Haji, Kemenhaj Karawang Hadirkan Layanan Satu Pintu untuk Jemaah
Setiap harinya tanpa absen, Sukinah memastikan seluruh gunungan limbah itu terpapar panas merata, benar-benar kering kerontang tanpa menyisakan satu pun sudut yang lembap.
Dulu, di satu sudut lahan, cangkang yang masih menyisakan serat daging dibiarkan membusuk secara alami di bawah sengatan matahari pesisir. Proses ini sengaja dilakukan untuk memancing lalat tentara hitam (black soldier fly) datang, berkembang biak, dan menitipkan ribuan larva maggotnya di sana.
Dengan cerdik, jaring-jaring berisi cangkang tersebut dibentangkan tepat di atas tambak. Seiring waktu, maggot-maggot gemuk itu akan berjatuhan dengan sendirinya, menjadi pakan alami gratis bagi kawanan ikan lele di bawahnya.
Sementara di sudut lainnya, proses yang berbeda terjadi. Cangkang-cangkang rajungan dijemur hingga kering mersik, lalu digiling menggunakan mesin hingga menjadi serpihan kecil. Serbuk-serbuk kaya kalsium itu kemudian dipadatkan ke dalam karung, menanti truk-truk yang akan menjemput dan mengirimkannya ke sentra-sentra peternakan ayam di kawasan Cikampek.
Baca juga: Band Hard Rock Metal Karawang Bakal Gebrak Panggung May Day di Depan Gedung DPR RI
Pemandangan di lahan Haji Tohar sesungguhnya proses hilir dari sebuah rantai ekonomi rajungan di Desa Sukajaya. Denyut nadi dusun berpenduduk lebih dari 2.000 jiwa ini memang sangat bergantung pada hasil laut.
Dikutip dari Jurnal Abdi insani terbitan Universitas Mataram Nomor 5, Mei 2025, delapan dari sepuluh pria dewasa di pesisir ini mempertaruhkan nasib sebagai nelayan penjaring rajungan.
Dari sumber yang sama, nelayan harian biasa meraup 5 hingga 10 kilogram rajungan setiap kali melaut. Sementara bagi mereka yang mengandalkan alat tangkap bubu, panen lautnya jauh lebih fantastis, menembus 3 hingga 4 ton setiap bulannya. Jika diakumulasikan, sepanjang tahun 2023 saja, Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Pasir Putih di desa itu dibanjiri hingga 500 ton rajungan, atau kira-kira setara dengan 41,6 ton per bulan.
Tingginya volume produksi rajungan ini berbanding lurus dengan tingginya timbunan limbah cangkang rajungan. Rajungan-rajungan hasil tangkapan nelayan itu umumnya disetor ke lima industri rumahan pengupas daging rajungan.
Dagingnya menjadi komoditas mahal, bahkan diekspor sampai ke Amerika, sementara berton-ton cangkang sisa kupasan terbuang masif, menciptakan polusi bau dan persoalan sanitasi pelik yang bertahun-tahun menghantui warga pesisir. Pada titik ini, Haji Tohar memberikan solusi. Ia menyediakan lahan miliknya sebagai “tempat sampah” limbah cangkang rajungan.
Baca juga: UBP Karawang Saring Calon Dekan dan Kaprodi Terbaik, Kini Masuk Tahap Uji Kelayakan
Namun, inisiatif mandiri yang dilakukan Haji Tohar belum cukup mengurai benang kusut krisis ekologi di Sukajaya. Skala pengolahan tradisional itu tak sebanding dengan volume limbah yang terus bertambah setiap harinya.
Menangkap urgensi tersebut, PT Pertamina Hulu Energi Offshore North West Java (PHE ONWJ) hadir melalui program TJSL dengan menggandeng Unit Inkubasi, Hilirisasi, dan Komersialisasi Fakultas Teknologi Industri Pertanian (FTIP) Universitas Padjadjaran (Unpad) untuk mengubah krisis lingkungan tersebut menjadi berkah ekonomi.
Peneliti Unpad membawa ide mengubah tumpukan limbah cangkang rajungan menjadi pupuk cair. Bahan baku utama pupuk ini berasal dari limbah cair hasil produksi kitosan cangkang rajungan.
Dalam laporannya, Ketua Pelaksana Tim Peneliti Unpad, Dr. In-In Hanidah, STP., M.Si., mengungkapkan proses penciptaan pupuk cair yang diberi nama Banyu Subur berawal dari upaya mengekstraksi limbah padat cangkang rajungan untuk diambil senyawa kitosannya.









