KARAWANG – Psikiater Primaya Hospital Karawang, dr. Anggi Aviandri Putra, Sp.KJ, menjelaskan isu LGBT dari perspektif kesehatan jiwa. Menurutnya, dalam ilmu kedokteran jiwa, LGBT tidak dikategorikan sebagai gangguan kejiwaan.
Anggi menjelaskan, psikiater dalam menentukan diagnosis menggunakan pedoman seperti Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM) serta International Classification of Diseases (ICD). Dalam klasifikasi tersebut, orientasi seksual tidak dipandang sebagai gangguan kejiwaan.
“Kalau dari kami sendiri yang kita pelajari bahwa sebenarnya LGBT itu memang enggak termasuk di gangguan kejiwaan. Karena pegangan kami ada namanya DSM, ada ICD-10, ICD-11, yang merupakan kumpulan diagnosis, dan di kumpulan diagnosis itu memang sebenarnya enggak termasuk LGBT,” ujar Anggi kepada tvberita, Rabu (9/9).
Baca juga: Kantah Karawang dan Pemkab Kolaborasi, Perizinan dan Investasi Didorong Lebih Cepat
Meski demikian, menurutnya, orang dengan orientasi seksual yang berbeda dari mayoritas dapat menghadapi persoalan psikologis, terutama ketika muncul tekanan sosial, stigma, diskriminasi, maupun konflik dengan dirinya sendiri.
Anggi membagi kondisi tersebut ke dalam dua situasi. Pertama, seseorang yang menerima dirinya dengan orientasi seksual yang dimiliki. Kedua, seseorang yang justru mempertanyakan atau tidak menerima kondisi dirinya sendiri.
“Orangnya itu terbagi di dua sisi. Ada yang dia menerima apa adanya dengan dirinya, ada orang yang malah jadi mempertanyakan, ‘Kok aku malah sukanya kayak gini?’” jelasnya.
Menurut Anggi, pendekatan terhadap kedua kondisi tersebut dapat berbeda. Bagi seseorang yang telah menerima dirinya, pendampingan profesional dapat diarahkan pada bagaimana membangun relasi yang sehat dan menjaga kondisi psikologisnya.
Sementara bagi seseorang yang mengalami konflik batin dan mempertanyakan mengapa dirinya memiliki orientasi seksual tertentu, tenaga profesional dapat membantu menggali pengalaman yang mungkin berhubungan dengan persoalan psikologis yang sedang dihadapi.
“Kalau misalkan ternyata dia enggak menerima, ‘Kenapa aku terlahir dengan orientasi seksual seperti ini?’ Nah itu mungkin bantuannya akan berbeda. Mungkin kita coba telusuri dulu sumber-sumber kenapa terjadinya orientasi tersebut,” katanya.
Anggi mencontohkan, dalam proses terapi dapat ditemukan pengalaman masa lalu yang masih meninggalkan luka, termasuk trauma. Namun, ia menegaskan bahwa hal tersebut tidak dapat langsung disimpulkan sebagai penyebab orientasi seksual seseorang.
“Misalkan, ‘Oh ternyata ada trauma masa lalu.’ Mungkin itu yang disembuhkan, dengan trauma-trauma yang dulu, sehingga dia bisa berdamai dengan pilihan orientasinya apa pun itu,” ujarnya.
Ia juga menegaskan bahwa psikiater tidak menjadikan orientasi seksual sebagai sesuatu yang harus “disembuhkan”. Jika seseorang datang karena mengalami depresi, kecemasan, atau tekanan psikologis akibat kondisi yang dihadapinya, maka persoalan kesehatan mental itulah yang menjadi fokus penanganan.
“Kalau ditanyakan bisa sembuh dengan orientasi yang lain enggak sih? Karena tadi pegangan untuk psikiater itu bukan termasuk yang diobati, bukan termasuk penyakit, saya sih enggak atau kami sih enggak menggaransi sembuh dengan pilihan orientasinya,” ungkapnya.
Baca juga: Mediasi Deadlock, Korban Dugaan Malapraktik RS Adukan Nasibnya ke DPRD Karawang
Dukungan Orang Terdekat
Dalam situasi ketika seseorang merasa bersalah, berdosa, atau mengalami konflik batin karena orientasi seksualnya, Anggi menyarankan orang-orang terdekat untuk tidak terburu-buru menghakimi ataupun memaksakan jawaban.
Menurutnya, dukungan pertama yang dapat diberikan adalah menjadi tempat yang aman untuk bercerita.
“Cara support-nya gimana? Ya sudah, dengarkan saja setiap keluhannya dia. Kalau memang dirasa dia terganggu dengan kondisi yang seperti itu, mungkin tawarkan bantuan untuk ke profesional,” tuturnya.
Menurut Anggi, seseorang tidak harus menunggu sampai mengalami gangguan berat untuk berbicara dengan psikolog maupun psikiater. Konsultasi dapat menjadi ruang untuk memahami persoalan yang sedang dialami.
Ia juga menyarankan orang terdekat menanyakan secara langsung bantuan seperti apa yang dibutuhkan.
“Kadang bukan masalah orientasi seksual, orang yang lagi depresi saja kadang kita bingung, ‘Ngebantunya gimana?’ Ya sudah kita tanyakan langsung, ‘Kamu maunya gimana?’ ‘Kamu kelihatan lagi sedih, ada yang bisa aku bantu enggak?’” katanya.









