Beranda Advertorial Profit ke Purpose: Reposisi Strategi Bisnis Syariah di Tengah Gerakan Konsumen Berkesadaran...

Profit ke Purpose: Reposisi Strategi Bisnis Syariah di Tengah Gerakan Konsumen Berkesadaran Global

Oleh: Ridwan Ibnu Asikin., M.E.*

Dunia bisnis sedang bergerak ke arah yang berbeda. Dulu, ukuran utama keberhasilan perusahaan adalah laba. Kini, ukuran itu mulai bergeser. Konsumen tidak lagi sekadar mencari produk murah, cepat, dan mudah didapat.

Mereka ingin tahu nilai apa yang dibawa sebuah merek, bagaimana perusahaan memperlakukan manusia, dan sejauh mana bisnis itu bertanggung jawab terhadap lingkungan. Dalam situasi seperti ini, tujuan bisnis menjadi sama pentingnya dengan keuntungan.

Bagi manajemen bisnis syariah, pergeseran ini adalah peluang besar. Selama ini, bisnis syariah sering dipahami hanya sebatas kepatuhan formal, seperti kehalalan produk atau larangan praktik tertentu.

Baca juga: 199 Guru di Karawang Promosi Jadi Kepsek, Bupati Aep Titip Jaga Integritas

Padahal, syariah jauh lebih luas dari itu. Di dalamnya ada amanah, keadilan, kemaslahatan, dan tanggung jawab sosial. Justru nilai-nilai inilah yang dibutuhkan oleh dunia bisnis modern yang sedang kehilangan kepercayaan publik.

Syariah Bukan Sekadar Identitas

Masih banyak pelaku usaha yang memandang syariah sebagai label. Padahal, syariah seharusnya menjadi arah. Ia bukan hanya menjawab apa yang boleh dan tidak boleh, tetapi juga mengarahkan bagaimana perusahaan berpikir, mengambil keputusan, dan melayani masyarakat.

Jika syariah hanya berhenti di permukaan, maka ia akan kalah oleh bisnis lain yang lebih kreatif, lebih responsif, dan lebih meyakinkan.

Di titik ini, bisnis syariah perlu tampil sebagai sistem nilai yang hidup. Publik hari ini tidak cukup diberi simbol keislaman. Mereka ingin melihat konsistensi. Mereka ingin bukti bahwa sebuah bisnis benar-benar jujur, adil, dan memberi manfaat nyata. Tanpa itu, label syariah hanya akan menjadi hiasan.

Arah Baru Ekonomi Global

Menariknya, arah baru ekonomi global sebenarnya sedang bergerak mendekati nilai-nilai yang sejak lama dikenal dalam Islam.

Baca juga: Duh, Kemendagri Usul Warga yang Hilang e-KTP Bakal Didenda

Banyak perusahaan besar kini berbicara tentang keberlanjutan, tanggung jawab sosial, dan tujuan sosial dari bisnis. Istilah purpose-driven business semakin sering dipakai untuk menandai model usaha yang tidak hanya mengejar untung, tetapi juga ingin memberi dampak.

Dalam konteks ini, bisnis syariah tidak sedang mengikuti tren. Ia justru memiliki fondasi yang lebih dulu ada. Islam sejak awal telah menempatkan kemaslahatan sebagai tujuan, bukan sekadar bonus. Karena itu, jika bisnis modern baru sekarang sibuk mencari makna, syariah sebenarnya sudah lama menawarkannya.

Pemasaran Syariah dan Krisis Kepercayaan

Hal yang sama berlaku dalam pemasaran syariah. Di era digital, konsumen makin sulit ditipu. Mereka bisa membandingkan, memeriksa, dan menilai apakah sebuah merek benar-benar sesuai dengan klaimnya. Klaim berlebihan, promosi yang menyesatkan, dan praktik greenwashing semakin mudah terbongkar.

Di sinilah pemasaran syariah memiliki ruang yang sangat besar. Pemasaran syariah tidak berhenti pada upaya menjual.

Ia membangun hubungan yang dilandasi kejujuran dan tanggung jawab. Dalam dunia yang penuh pencitraan, kejujuran justru menjadi keunggulan yang paling mahal. Dan itulah yang seharusnya menjadi kekuatan utama pemasaran syariah.

Baca juga: 312 Siswa SMP Ramaikan FLS3N Karawang 2026, Ajang Asah Bakat Seni dan Sastra

Dari Kepatuhan ke Dampak

Tantangan terbesar bisnis syariah bukan pada konsep, melainkan pada praktik. Banyak usaha sudah mengusung identitas syariah, tetapi belum benar-benar menjadikan syariah sebagai cara kerja.

Akibatnya, bisnis terlihat religius, tetapi belum tentu berbeda secara nyata dalam kualitas pelayanan, kepedulian sosial, atau kontribusinya terhadap keberlanjutan.

Karena itu, reposisi menjadi penting. Bisnis syariah harus bergerak dari kepatuhan minimal menuju dampak maksimal. Keberhasilan tidak cukup diukur dari sertifikat atau simbol. Yang lebih penting adalah apakah bisnis itu benar-benar membawa manfaat, menjaga martabat manusia, dan memberi nilai tambah bagi masyarakat luas.

Relevan di Tengah Ketidakpastian

Situasi bisnis hari ini juga makin kompleks. Perdagangan global dipengaruhi oleh ketegangan geopolitik, perubahan rantai pasok, dan percepatan digitalisasi.

Di saat yang sama, tuntutan terhadap keberlanjutan semakin kuat. Perusahaan yang hanya mengejar margin akan lebih mudah terguncang. Sebaliknya, bisnis yang memiliki dasar nilai yang kokoh akan lebih dipercaya dan lebih tahan menghadapi perubahan.

Di sinilah syariah menawarkan keunggulan yang sering tidak disadari. Ia tidak hanya bicara halal, tetapi juga arah. Ia tidak hanya memberi batas, tetapi juga memberi tujuan. Dan dalam dunia yang semakin tidak pasti, arah adalah sesuatu yang sangat mahal.

Baca juga: Di Karawang, Mentan Soroti Ancaman Kekeringan Imbas El Nino

Peluang untuk Indonesia

Bagi Indonesia, peluang ini sangat besar. Dengan jumlah penduduk Muslim yang besar dan pertumbuhan ekonomi digital yang cepat, bisnis syariah memiliki potensi untuk menjadi arus utama. Namun, potensi itu hanya bisa menjadi kekuatan jika syariah dipahami secara lebih luas.

Ia harus dilihat bukan sebagai pasar kecil yang terpisah, tetapi sebagai cara membangun ekonomi yang lebih jujur, lebih adil, dan lebih berkelanjutan.

Masa depan bisnis syariah tidak ditentukan oleh seberapa keras ia menonjolkan identitas, tetapi oleh seberapa kuat ia memberi makna. Jika syariah dijalankan dengan konsisten, maka ia dapat menjadi jawaban atas krisis kepercayaan, krisis keberlanjutan, dan krisis makna yang sedang melanda ekonomi global.

Menuju Bisnis yang Dipercaya

Pada akhirnya, dunia bisnis tidak hanya membutuhkan perusahaan yang besar. Ia membutuhkan perusahaan yang layak dipercaya. Di tengah zaman yang penuh tekanan dan ketidakpastian, kepercayaan adalah modal paling penting. Dan di situlah bisnis syariah memiliki peluang besar untuk tampil bukan hanya sebagai alternatif, tetapi sebagai arah baru.

Baca juga: Cerita Gen Z di Karawang Naik Haji: Nabung Sejak Kelas 3 SD, Berangkat 12 Tahun Kemudian

Karena pada akhirnya, masa depan bisnis bukan milik mereka yang paling keras mengejar laba, melainkan mereka yang paling mampu memberi makna.

Daftar Pustaka

UNCTAD. (2026). 10 trends shaping global trade in 2026.

Atlantic Council. (2026). Five trends to watch in the global economy in 2026.

Deloitte. (2025). Global economic outlook 2026.

Referensi tentang sustainable Islamic marketing, maqasid, dan ethical branding.

Tentang Penulis

Ridwan Ibnu Asikin adalah praktisi bisnis dan mahasiswa Program Doktor Manajemen Universitas Islam Bandung (UNISBA) yang memiliki ketertarikan terhadap isu bisnis syariah, pemasaran syariah, serta transformasi bisnis berkelanjutan. (*)