Senin, 15 Oktober 2018

Menaker: Peningkatan Kompetensi SDM Harus Dipercepat

KABUPATEN SIKKA, TVBERITA.CO.ID- Pemerintah mendorong agar proses peningkatan sumber daya manusia (SDM) Indonesia tidak hanya dilakukan oleh pemerintah saja, tapi juga melibatkan lembaga swasta dan dunia usaha.
 
Hal ini dibutuhkan agar proses peningkatan kualitas SDM dapat dipercepat dan dapat menghasilkan tenaga kerja kompeten yang sesuai dengan kebutuhan pasar kerja.
 
“Indonesia harus mengejar ketertinggalan dari negara-nagara lain dalam penyiapan SDM kompeten. Apalagi Indonesia juga dihadapkan pada tantangan bonus demografi,” ujar Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) M. Hanif Dhakiri saat mengunjungi Laboratoriun Pelatihan Politeknik ATMI Sikka (Kampus Cristo re Maumere), Nusa Tenggara Timur (NTT), Rabu (10/10/2018).
 
Dikatakan Hanif, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), Indonesia masih mengalami persoalan angkatan kerja yang didominasi oleh lulusan SD-SMP sebesar 59,6 persen. Dalam rentang usia tersebut, kemungkinannya sangat tipis bagi masyarakat untuk dapat mengikuti jenjang pendidikan yang lebih tinggi yang membutuhkan waktu tidak sebentar.
 
“Misalkan, lulusan Politeknik dibandingkan dengan lulusan BLK yang pelatihan hanya beberapa bulan, itukan kualitasnya (lulusan, red) bisa diadu,” kata Hanif.
 
Sementara itu, salah seorang pengurus Polteknaker ATMI, Romo Doni menyebut, pendidikan vokasi seperti politeknik memiliki prospek bagus di dunia kerja. Sejumlah lulusan politeknik mereka pun disebutnya telah berhasil masuk ke dunia industri. Hanya saja, pendidikan vokasi, khususnya di daerah punya banyak kendala.
 
“Kendala yang dihadapi antara lain kebutuham alat-alat pelatihan yang tidak murah. Itulah kenapa tiap tahun hanya sekitar 20-an orang saja yang kami terima,” ujar Romo Doni.
 
Menanggapi hal tersebut, Hanif menyebut bahwa dalam standar internasional (ILO), kuota pelatihan memang hanya sekitar 16 orang saja tiap kelasnya. Ia mengingatkan, selain kualitas dan kecepatan, lembaga pelatihan dan pendidikan vokasi juga harus memperhatikan pembangunan karakter dan attitude.
 
“Seperti di Jepang, itu kalau karyawan baru, dilatih karakternya dengan jalan kaki sekian meter dengan waktu tempuh sekian detik. Jadi yang jalannya lambat biar bisa nambah cepat. Yang jalannya terlalu cepat bisa menyesuaikan,” paparnya.
 
Kedepannya, dengan adanya standar kualitas kerja yang baik, maka para pekerja memiliki standar yang sama dalam bekerja. Sehingga tidak ada gap keahlian satu sama lain.(kb)
MORE

Kasus Buruh di Purwakarta, Dedi Mulyadi Siap Pasang Badan

Kasus Buruh di Purwakarta, Dedi Mulyadi Siap Pasang Badan

PURWAKARTA, TVBERITA.CO.ID- Ketua Dewan Penasihat PP KSPSI Dedi Mulyadi berkomit...