Beranda Karawang Kelompok 151 KKN Unsika Karawang Kenalkan Anak-anak Tunagrahita Permainan Tradisional

Kelompok 151 KKN Unsika Karawang Kenalkan Anak-anak Tunagrahita Permainan Tradisional

KARAWANG – Permainan tradisional merupakan aktifitas bermain yang dilakukan oleh anak-anak sejak lama. Namun seiring waktu berjalan, permainan tradisional mulai terlupakan dan beralih ke permainan modern dengan gadget, yang membuat anak-anak kurang bersosialisasi. Oleh karena itu, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Singaperbangsa Karawang (Unsika) kelompok 151 tahun 2021 memperkenalkan permainan tradisional pada anak-anak tunagrahita SLB Negeri Karawang di Desa Cengkong, Kecamatan Purwasari, Kabupaten Karawang.

Kegiatan tersebut dihadiri oleh Plt. Kepala SLB Negeri Karawang-Ratna Suciati, S.Pd., M.M.Pd., Wakil Kepala Sekolah Kurikulum SLB Negeri Karawang-Nur’aini, S.Pd., Dosen Pembimbing Lapangan – Rekha Ratri Julianti, M.Pd. serta 31 wali siswa dengan menerapkan prokes ketat seperti memakai masker, menjaga jarak dan mencuci tangan sebelum masuk ke area sekolah.

Dosen Pembimbing Lapangan, Rekha Ratri Julianti, M.Pd, menjelaskan, kegiatan tersebut diikuti oleh 50 persen siswa SLB Negeri Karawang.

“Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk meningkatkan rasa percaya diri anak saat berinteraksi kepada oranglain, memberi edukasi tentang permainan tradisional, dan membentuk psikososial pada anak sehingga menjadi Sumber daya manusia yang memiliki sikap interaksi yang baik serta interaksi positif kepada oranglain,” ujarnya, Jumat (19/11).

Baca juga: Dosen Unsika Karawang Kenalkan Game Tradisional Berbasis Website, Apa Itu?

Permainan tradisional yang dikenalkan oleh peserta KKN adalah; pertama permainan tradisional engklek yang bermanfaat untuk mengasah kemampuan bersoaialisasi dengan orang lain kemampuan fisik menjadi lebih kuat, dapat menaati aturan aturan yang telah disepakati bersama, mengembangkan kecerdasan logika, melatih untuk berhitung dan menentukan langkah langkah yang harus dilewati, dan dapat menjadi lebih kreatif.

Kedua, permainan pindah bola yang bermanfaat untuk melatih kelincahan tangan dan melatih fokus dan konsentrasi anak.

Baca Juga :   Dosen Unsika Karawang Kenalkan Game Tradisional Berbasis Website, Apa Itu?

Ketiga, permainan bocce yang manfaatnya adalah untuk meningkatkan kemampuan bersosialisasi, menambah kepercayaan diri dan melatih kejujuran serta sportivitas. Selanjutnya yang keempat, dikenalkan perserta KKN adalah permainan jingkat dengan manfaatnya untuk melatih keseimbangan dan menguatkan otot kaki.

“Dan tentunya yang terakhir adalah permainan congklak bermanfaat untuk dapat melatih saraf motorik halus karena melibatkan otot kecil, koordinasi mata, serta tangan anak, permainan congklak juga dapat melatih kesabaran, belajar menghitung, memahami aturan, dan kejujuran anak,” paparnya.

 

Kegiatan memperkenalkan permainan tradisional ini, menurutnya mendapat respon yang sangat positif dari para anak tunagrahita, banyak anak yang menikmati permainan tradisional ini setelah mendapat pengenalan mengenai permainan tradisional.

Selain bermain bersama para siswa SLB Negeri Karawang, kelompok KKN 151 UNSIKA juga memberikan seminar pendampingan edukasi orang tua / wali peserta didik dalam pembentukan psikososial anak melalui permainan tradisional congklak.

Adapun tujuan dalam pelaksanaan seminar, ialah untuk membantu para orangtua atau wali peserta didik dalam membentuk psikososial anak melalui permainan tradisional congklak. “Psikososial anak adalah hal yang sangat perlu di perhatikan dalam upaya tumbuh kembang anak anak pada usia pendidikan, karena pada hakekatnya manusia merupakan makhluk sosial yang saling membutuhkan satu sama dengan yang lainnya,” jelas Rekha.

Lanjut dia, berbagai kendala tentu menjadi faktor hambatan bagi pertumbuhan dan perkembangan psikososial anak, salah satu nya ialah pada anak yang berkebutuhan khusus.

Untuk membentuk kepribadian sosial dan psikologi anak berkebutuhan khusus, sangat perlu penanganan yang lebih sabar dengan berbagai upaya cara mendidik nya, karena biasanya anak berkebutuhan khusus cenderung lebih lambat pertumbuhan dan perkembangan psikososialnya.

“Karena itulah kelompok KKN 151 ini akan berupaya untuk membantu pendampingan edukasi bagi orang tua siswa untuk membentuk psikososial anak melalui permainan tradisional congklak,” terang Rekha. (rls)

Artikel sebelumnyaPelatihan Barista DKUPP Buka Peluang Wirausaha Baru
Artikel selanjutnyaLPKSM Satria Pangkal Perjuangan gelar Bimtek Kelembagaan