
KARAWANG – Di tengah gempuran kain bermotif batik hasil cetak modern, keberadaan Workshop Batik Putri Sanggabuana Karawang tetap konsisten memperkenalkan batik tradisional kepada masyarakat.
Tidak hanya menjadi tempat produksi, workshop milik Herry Daryanto itu kini berkembang menjadi ruang edukasi lintas usia, mulai dari anak TK hingga mahasiswa program doktoral.
Pemilik Workshop Batik Putri Sanggabuana Karawang, Herry Daryanto mengatakan, workshop tersebut dibangun sebagai upaya mengenalkan kembali warisan budaya batik tradisional kepada masyarakat, khususnya generasi muda yang mulai asing dengan proses membatik.
Baca juga: Intip Rekayasa Lalu Lintas Kirab Budaya di Karawang Malam Ini, Sejumlah Jalan Ditutup
“PR terbesar kita itu ternyata lebih dari 90 persen masyarakat enggak tahu proses batik. Enggak tahu mana batik tradisional dan mana kain bermotif batik,” ujarnya kepada tvberita.
Ia menjelaskan, batik tradisional memiliki ciri utama menggunakan malam atau lilin batik dalam proses pembuatannya, baik melalui canting tulis maupun canting cap. Malam tersebut berfungsi sebagai pembentuk motif sekaligus perintang warna saat proses pewarnaan kain.
“Di luar yang tidak menggunakan malam, itu masuk kategori kain bermotif batik. Ada yang printing, ada sablon, dan itu sama sekali tidak memerlukan keterampilan membatik,” katanya.
Menurut Herry, nilai utama batik tradisional bukan terletak pada kainnya semata, melainkan proses, keterampilan dan filosofi di balik setiap motif yang dibuat secara manual.
“Kalau membeli batik tradisional, kita bukan membeli selembar kain. Tapi menghargai proses dan filosofi di baliknya,” ucapnya.
Berawal dari Kekhawatiran Batik Diklaim Negara Lain

Herry mengaku, ketertarikannya terhadap batik justru bukan berasal dari latar belakang keluarga pengrajin maupun kecintaan sejak kecil terhadap dunia batik. Ia mulai serius mempelajari batik setelah muncul polemik klaim budaya Indonesia oleh negara lain beberapa tahun silam.
Menurutnya, saat itu masyarakat Indonesia ramai marah ketika batik diklaim negara lain, namun banyak yang sebenarnya belum memahami apa itu batik tradisional.
Baca juga: Saat 40 Perempuan Disabilitas di Karawang Dilatih Membatik
“Waktu itu saya juga enggak ngerti batik tradisional itu seperti apa. Pokoknya asal motifnya batik dianggap batik, padahal belum tentu,” katanya.
Dari situ, Herry mulai belajar membatik dari nol bersama maestro batik nasional Komarudin Kudiya dan sejumlah pengrajin senior lainnya. Setelah memahami proses dan filosofi batik tradisional, ia kemudian memiliki keinginan membangun sebuah workshop edukasi di Karawang.
“Saya ingin mengenalkan kembali warisan budaya ini. Karena tak kenal maka tak sayang. Kalau sudah kenal, nanti suka, lalu cinta,” ujarnya.
Ia menyebut, tujuan akhirnya bukan hanya melahirkan pengrajin, tetapi membangun rasa memiliki terhadap warisan budaya bangsa.
“Kalau rasa memiliki sudah muncul, orang akan takut kehilangan. Di situlah budaya akan tetap lestari dan enggak mudah diklaim negara lain,” katanya.
Baca juga: Mayoritas Islam, Begini Data Lengkap Penduduk Karawang Berdasarkan Agama
Batik Jadi Media Pembentukan Karakter
Menurut Herry, proses membatik tidak sekadar menghasilkan motif di atas kain, tetapi juga membentuk karakter seseorang. Dalam proses membatik, seseorang dituntut sabar, teliti, kreatif dan inovatif.
“Kalau pembatik gampang marah, enggak bakal jadi batiknya. Ketika gagal sedikit harus dicari solusi supaya tetap jadi seni. Di situ muncul karakter inovatif,” ujarnya.
Workshop yang berada di Karawang itu kini juga dimanfaatkan sebagai tempat penelitian dan praktik bagi pelajar maupun mahasiswa. Bahkan, mahasiswa dari sejumlah perguruan tinggi seperti UBP Karawang, Unsika, ITB hingga Universitas Pasundan pernah melakukan penelitian skripsi dan tesis di tempat tersebut.
“Yang belajar ke sini sudah ribuan. Dari Karawang maupun luar daerah,” katanya.
Sempat Terdampak Pandemi Covid-19

Herry mengaku, pandemi Covid-19 sempat membuat aktivitas workshop terganggu. Sebelumnya ia memiliki sejumlah pengrajin binaan, namun karena keterbatasan biaya operasional selama pandemi, sebagian besar pekerja memilih mencari pekerjaan lain.
“Workshop tetap jalan, tapi hanya ditangani empat orang untuk kepentingan edukasi dan penelitian,” ujarnya.
Baca juga: Terciduk, Ada Truk Timbun Solar dan Gonta-ganti Pelat Palsu di Karawang
Meski demikian, ia tetap membuka ruang bagi masyarakat yang ingin belajar membatik maupun menjadi pengrajin. Bahkan, workshop tersebut menyediakan fasilitas produksi secara gratis bagi peserta binaan yang sudah memiliki keterampilan namun terkendala modal.
“Satu canting cap saja harganya bisa Rp2,5 juta. Belum bahan kain dan instalasi pengolahan limbah. Jadi memang berat kalau mau langsung jadi pengrajin,” katanya.
Saat ini tercatat ada tujuh orang binaan yang aktif memanfaatkan workshop tersebut untuk berproduksi secara bergantian. Menurut Herry, mereka belajar secara rutin selama sekitar satu tahun hingga akhirnya mampu menghasilkan produk sendiri.
Angkat Filosofi dan Identitas Karawang
Selain edukasi, Workshop Batik Putri Sanggabuana juga aktif mengembangkan motif khas Karawang yang diangkat dari sejarah, budaya dan kekayaan alam daerah. Salah satu motif yang paling dikenal adalah motif Padi Gendang yang merepresentasikan Karawang sebagai lumbung pangan nasional.
Tidak hanya itu, sejumlah motif lain juga terinspirasi dari ekosistem rawa, tanaman khas daerah hingga komoditas lokal seperti trubuk dan kawista.
Baca juga: UBP Karawang Kukuhkan Pejabat Strategis, Perkuat Tata Kelola Akademik dan Mutu Perguruan Tinggi
“Semua yang berkaitan dengan Karawang atau memiliki filosofi kuat kita angkat menjadi motif batik Karawangan,” katanya.
Ia juga mengingatkan bahwa UNESCO pernah memberi catatan terkait kelestarian batik Indonesia. Jika jumlah pengrajin terus berkurang, pengakuan terhadap batik sebagai warisan budaya bisa terancam.
“Warisan budaya itu diakui bukan hanya karena asalnya dari mana, tapi karena masih terus dilestarikan dan dilakukan masyarakatnya. Jadi budaya ini harus terus di regenerasi,” pungkasnya. (*)








