Beranda Headline Sempat Vakum Puluhan Tahun, Warga Karawang Senang Festival Ngadulag dan Takbir Keliling...

Sempat Vakum Puluhan Tahun, Warga Karawang Senang Festival Ngadulag dan Takbir Keliling Dibangkitkan Lagi 

Festival takbir keliling karawang
Antusiasme masyarakat begitu terasa dalam gelaran Festival Ngadulag dan Takbir Keliling tingkat Kabupaten Karawang. Kegiatan yang diikuti oleh 30 kecamatan ini tidak hanya menjadi ajang perlombaan, tetapi juga momentum kebangkitan tradisi yang sempat meredup.

KARAWANG – Antusiasme warga begitu terasa dalam gelaran Festival Ngadulag dan Takbir Keliling tingkat Kabupaten Karawang. Kegiatan yang diikuti oleh 30 kecamatan ini tidak hanya menjadi ajang perlombaan, tetapi juga momentum kebangkitan tradisi yang sempat meredup.

Berdasarkan pantauan di lapangan, ribuan warga memadati lokasi kegiatan di tiga titik pelaksanaan. Suasana malam takbiran berlangsung meriah namun tetap kondusif.

Masyarakat dari berbagai kalangan tampak menikmati penampilan arak dulag yang ditampilkan masing-masing kecamatan.

Baca juga: Saat Bupati Karawang Rogoh Kocek Pribadi, Bahagiakan 700 Anak Yatim dan Jompo di Kampung Halaman

Kondisi ini menjadi angin segar dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Malam takbiran yang kerap diwarnai aksi negatif seperti tawuran dan pesta minuman keras, kini berubah menjadi kegiatan yang lebih positif, terarah, dan sarat nilai budaya serta religi.

Salah satu peserta, Udin Puyuh, perwakilan Kecamatan Telukjambe Barat dari Desa Margakaya, grup Limas Kencleng, mengaku bangga bisa ambil bagian dalam festival tersebut. Ia menyebut keikutsertaannya berawal dari penunjukan pihak kecamatan.

“Saya perwakilan dari Kecamatan Telukjambe Barat, Desa Margakaya. Awalnya saya juga tidak tahu apa-apa, tapi karena diminta perwakilan dari kecamatan, ya saya ikuti saja,” ujarnya saat diwawancarai di Jalan Ahmad Yani depan Gedung Pemkab Karawang pada Jumat, (20/3).

Baca juga: 53 Ribu Kendaraan Melintas Jalur Pantura Karawang di H-3 Lebaran: Puncaknya Malam Ini

Ia menegaskan, kelompoknya mengusung konsep sederhana dengan tetap mempertahankan keaslian alat musik tradisional. Tidak ada sentuhan modern, seluruh instrumen dibuat dari bahan alami seperti dulag dari pohon gebang, kohkol, hingga peralatan sederhana seperti panci dan kecrek.

“Saya tidak pakai yang mewah-mewah. Ini asli dulag, alami. Sesuai arahan juga, jangan pakai yang modern seperti organ. Yang penting takbir dan tetap tradisional,” katanya.